Menikah melalui Ta'aruf, bagaimana cara menumbuhkan cinta?

February 12, 2021


Ketika sosial media udah merajai kehidupan dan ditambah lagi dengan teknologi makin maju, pasti seperti sebuah hal aneh bagi generasi young ketika mendengar menikah tanpa pacaran. Serasa masuk ke jaman dahulu, merajut kasih tanpa diawali cinta, apalagi melihat kenyataan banyak yang menyerah saat hubungan bermasalah bahkan memilih berpisah padahal mereka pacarannya lama. Rasanya impossible menjalani hubungan tanpa pacaran.

Saya menyadari menikah itu keputusan besar dan berharap hubungan itu bisa bertahan seumur hidup dan jujur sedikit khawatir bisakah memulai hidup bersama tanpa cinta? Bisakah membahagiakan, bagaimana cara bisa menyatu dan bahagia bersama orang yang tak dikenal? Bagaimana bisa menerima kekurangan tanpa dilandasi cinta? Pertanyaan-pertanyaan ini ditepis dengan melihat kebelakang saat banyak pasangan lama lebih tepatnya nenek dan kakek bisa bahagia sampai mereka menua walaupun cara menikahnya dengan perjodohan.

Pada akhirnya, si generasi Young ini dan pecinta drama korea yang selalu disajikan percintaan romantis menerima perjodohan ta'aruf. Mungkin agak aneh ketika mendengar kata perjodohan dan ta'aruf.  Jadi begini, orang tua akan menyodorkan calon kemudian saya menyeleksinya dan ketika masuk kriteria barulah ta'aruf  (perkenalan lebih dekat). Caranya keluarga calon akan datang rumah.

Cara menyakinkan hati untuk mengatakan yes

Sebuah dilema untuk memilih orang yang akan bersama menua tanpa dia kenal lebih dalam. Kadang berpikir 'apakah tidak membeli kucing dalam karung?' Namun hidup itu pilihan, setiap tindakan pasti ada resikonya. Termasuk memilih pasangan sehidup semati. Adapun cara saya meyakinkan bahwa dia Mr right adalah 

1. Tentukan kriteria 

Istilah yang sering kali muncul saat menikah adalah bibit, bebet dan bobot. Bibit diibaratkan dengan keturunan atau asal usul, bebet maknanya kesiapan secara ekonomi. Sedangkan bobot itu kualitas meliputi aspek pendidikan, akhlak dan agama. Ketiga hal ini sukses bikin pusing, iya kan? Susah loh cari paket komplit. Namun kini banyak orang yang lebih mementingkan bebet, bukankah hidup pilihan. Ingin hidup tenang secara ekonomi tentu harus punya bebet maksimal (pekerjaan yang bonafid). 

2. Cari informasi sebanyak-banyaknya

Menurut psikolog Rose Mini, 'mencari cinta sejati bisa melalui ta'aruf dan yang terpenting adalah mengenal satu sama lain. Dan jika jika dalam taaruf tak ada proses pengenalan secara emosional sebagaimana yang dialami orang pacaran, maka setidaknya, setiap orang yang menjalani taaruf harus mengumpulkan informasi-informasi penting tentang calon pasangan'. Menilai orang bisa dari tingkah laku dan cara bicara, saat berbicara dengan calon pasangan itulah kesempatan menilai layak atau tidak.

Jika masih belum puas jangan malu menghubungi saudara atau kenalan calon pasangan tanyakan hal yang dirasa penting kemudian  nilai apakah siap menerima kekurangan, bisakah hati berdamai dan selalu ingat tak ada yang sempurna. 

Akan lebih baik lagi jika dikombinasikan dengan media sosial, dijaman sekarang ini semua orang punya media untuk aktualisasi diri. Nah, lihat postingannya kalau perlu kejar jejak digitalisasi. Namun tak menutup mata, selalu ada perbedaan antara share medsos dengan kenyataan si calon pasangan.

Baca : Bahaya Curhat Online di Media Sosial Sembarangan

3. Pasrahkan pada Yang Maha Kuasa

Menikah itu diniatkan untuk beribadah maka akan dipermudah, yakin aja. Perbanyak doa dan minta diberi ketetapan hati kalau ngak yakin minta diganti dengan jodoh yang lebih baik. Selalu ingat jodoh itu rahasia Tuhan.

Ingin jatuh cinta? Kenali dahulu  teorinya

Bicara cinta ngak akan habisnya, sebab ini merupakan perasaan kasih sayang yang timbul saat menjalin suatu hubungan dan akan membuat orang untuk menguatkan, melindungi serta berusaha untuk selalu lebih baik. Cinta tak melulu ungkapan perasaan tapi juga dalam bentuk perbuatan. Menurut psikolog Robert Sternberg, ada sebuah teori bernama Triangular Theory of Love,  cinta mempunyai tiga komponen:

1. Keakraban atau keintiman (intimacy)

Keakraban adalah perasaan yang selalu ingin dekat, terikat dan terkait. Jika diistilahkan adalah afeksi yang mendorong untuk selalu melakukan kedekatan emosional dengan orang yang dicintainya. Komponen ini biasanya dibentuk melalui seberapa besar rasa percaya, perhatian, serta komunikasi yang baik dalam suatu hubungan.

2.Gairah (Passion)

Gairah dicerminkan dalam bentuk keinginan untuk bersatu dengan orang yang dicintai. Bisa juga diterjemahkan dengan ekspresi hasrat (ingin dekat secara fisik, merasakan sentuhan) dan kebutuhan seksual. Passion merupakan elemen fisiologis yang mengarah pada keromantisan, ketertarikan fisik, hubungan seksual  dalam percintaan.

Dalam suatu hubungan intimacy dan passion tak selalu seimbang tapi juga saling berkaitan bahkan bisa berlawanan dan ini berpengaruh pada masa depan. Namun, harus diingat kedua komponen ini selalu berinteraksi satu dengan yang lainnya di dalam suatu hubungan yang akrab.

3.keputusan (Commitment)

Commitment merupakan salah satu komponen yang bersifat dua arah dalam suatu hubungan. Ada jangka pendek dan jangka panjang. Ketika memutuskan mencintai artinya komitmen jangka pendek, sedangkan jangka panjang dalam bentuk menjaga cinta atau dengan kata lain mampu bertahan sampai akhir. Ini merupakan hal yang penting untuk dimiliki, sebab sebagai usaha untuk menjaga keberlanjutan hubungan.

Commitment ditunjukkan melalui menjaga kepercayaan, perasaan, serta tanggung jawab. Suatu hubungan takkan berhasil tanpa ada Commitment didalamnya bahkan kalaupun bertahan akan menjadi Toxic Relationship. Pleas, jangan pernah bertahan dalam hubungan yang tak sehat

Baca : Apa Itu Komitmen? Kunci Membangun Hubungan Agar Terhindar Toxic Relationship

Keberadaan commitment untuk  mencapai tujuan bersama, menyatukan visi misi dalam suatu hubungan sehingga tercipta persamaan pemikiran dan sudut pandang. Perbedaan dalam satu ikatan jika dibiarkan akan menjadi penyebab retaknya suatu hubungan.

Commitment akan muncul terlebih dahulu barulah timbul intimacy dan passion, begitulah yang terjadi pada pernikahan secara ta'aruf.  Berbeda dengan yang pacaran bagi mereka komitmen merupakan kombinasi dari intimacy dan passion. Tak mengapa berbeda bukankan intinya sama menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.  

memekarkan asa dan menumbuhkan cinta 

Balik lagi ke cerita saya! Selama ta'arufan frekuensi bertemu hanya 3 kali dan hanya berkomunikasi seputar masalah persiapan pernikahan saja. Tak sempat atau lebih tepatnya tidak pernah menanyakan rasa cinta dihati masing-masing, tapi kami yakin dengan keputusan yang diambil. Semua berjalan begitu cepat dan tibalah dihari pernikahan. Memulai hidup bersama tanpa ada cinta dan kapankah rasa itu datang? Hmm, perlu waktu yang agak lama bagi diri ini. Dan saat menjalani masa penumbuhan rasa kami punya asa akan bahagia. Menikmati proses mengenal lebih dekat, bersabar untuk setiap kekurangan dan mengkomunikasikan keinginan. Sedikit khawatir kalau proses akan berjalan lama tapi saya meyakini 'Kalau cinta bisa hilang, berarti cinta juga bisa ditumbuhkan'.

Terbiasa bersama-sama dan mau menerima semua kekurangan yang ada merupakan modal membuat cinta bermekaran. Jadi ingat pepatah Jawa, 'Witing Tresno Jalaran Soko Kulino'. Oh iya... ada kan drama Korea Full House, yang menceritakan tentang kawin kontrak dan tinggal bersama membuat mereka saling cinta. 

Balik lagi ke teori bernama Triangular Theory of Love, Commitment merupakan kunci yang lebih krusial dalam sebuah pernikahan. Entah kapan pastinya rasa cinta itu muncul tapi saya mensyukuri yang telah terjadi. Jadi, memilih menikah tanpa pacaran dan hanya melalui masa taaruf yang sebentar pun bisa menumbuhkan cinta asal mau berusaha. 

Bagi yang lagi mau tau lebih jauh terkait hubungan terutama cinta nonton vidio dari satu persen. 


Mau menambah informasi atau memecahkan masalah kesehatan mental dibantu ahlinya tapi bingung mau kemana dan bagaimana caranya? kini bisa mengikuti layanan online konseling, mentoring, beragam webinar, kelas online dan tes online gratis yang dimiliki oleh Satu Persen. Terutama terkait mental jangan diabaikan Gak Harus Nunggu Sakit untuk Konseling

#SatuPersenBlogCompetition

 


You Might Also Like

0 komentar

Hai... silahkan tinggalkan pesan dan tunggu saya approve ya...
terima kasih udah berkunjung

sosial media

LinkedIn

KSB

Total Pageviews

Kelas Growth dari Growthing.id*