Upaya Menghidupkan Siklus Material di Kawasan dengan Zero Waste Cities

February 13, 2021


Komplek perumahan kami ada peraturan baru terkait sampah, bulan depan tidak ada lagi wadah penampung sisa konsumsi. Kami penghuni komplek harus menunggu mobil angkutan datang kemudian melemparkannya ke truk pada jam yang telah ditentukan. Jadi, tiap blok di komplek beda-beda waktu pengangkutanya. Kendala terasa jika habis menebang pohon, sampah dari batang, ranting dan daun itu banyak banget. Ngak lucu aja berdiri didepan rumah sembari menunggu kedatangan truk yang jamnya ngak jelas, kadang siang kadang malam hari.

Situasi ini paling menyusahkan bagi yang punya bayi dan balita, sampah popok sekali pakai luar biasa banyaknya. Sedangkan saya selow aja berada di situasi ini karena sampah yang dihasilkan dari rumah ngak banyak lantaran saya udah menerapkan Zero waste secara mandiri. Jika dikumpulkan dalam satu Minggu hanya satu kresek saja. 

 Zero waste, bisakah hidup tanpa sampah

 1. Sebuah kegelisahan untuk isu sampah 

Sudah lama saya memikirkan tentang keberadaan sampah yang kian banyak saja dan bahkan sudah tidak pada tempatnya. Pernah liat beritakan paus yang mati mendadak dan saat dibelah perut ditemukan berbagai sampah. Artinya ia menyantap semua yang ada dilaut termasuk sampah. 

Berita lain yang bikin miris adalah  tragedi TPA Leuwigajah yang terjadi pada tahun 2005. Akibat tingginya gunungan sampah dan ditambah lagi guyuran hujan deras membuat gas metana berakumulasi meledak dan membuat gundukan sampah longsor. Sebanyak 150 korban tewas tertimbun longsoran sampah. Sebuah pelajaran bagi kita semua isu sampah tak bisa disepelekan, ini tanggung jawabnya bersama.

Kita tidak bisa menutup mata dengan menyerahkan pengelolaan sampah pada petugas saja. Rasanya sebuah kemustahilan saja, jumlah pasukan oren tak seberapa sedangkan yang bikin sampah banyak banget. Sekuat apapun mereka bekerja takkan nampak hasilnya, maka dari itu ini merupakan tugas kita secara bersama-sama

2. Bisakah kita menerapkan hidup Zero waste

Gerakan nol sampah, jika diterjemahkan berdasarkan kata Zero waste.  Pertanyaannya adalah, bisakah kehidupan dijalani tanpa sampah? Rasanya tidak mungkin. Dari bangun tidur sampah tidur lagi entah berapa banyak zat sisa konsumsi yang udah dihasilkan. Jadi apakah makna Zero waste itu? Zero waste merupakan sebuah gerakan untuk tidak menghasilkan sampah dengan cara mengurangi kebutuhan, menggunakan kembali, mendaur ulang, termasuk membuat kompos sendiri. Kalau istilahnya 3R yaitu reuse, recycle dan reduce. Kini  ditambahkan dengan pengomposan. 

Prinsip dari Zero waste dalam mengelola sisa konsumsi dibikin alami dan berkelanjutan,  kalaupun tidak bisa seperti yang diharapkan setidaknya menjadi sumber daya atau barang yang berguna bagi pihak lain yang menggunakannya.

 Cara saya melaksanakan Zero waste

Saya menyadari Zero waste hanya akan jadi sebuah dongeng jika tidak dikerjakan, maka dari itu saya berusaha menerapkan terlebih dahulu dengan harapan seiring waktu bisa mempengaruhi orang-orang disekitar. Walaupun saya menafikan bahwa ini terkait perilaku dan seperti yang diketahui merubah perilaku itu sulit terutama terkait dengan sampah. Beberapa orang tergerak hatinya untuk mengelola sisa konsumsinya dan saya bersyukur diberi pencerahan melalui media sosial serta website-website. Dan beruntung hati ini tergerak mengikuti tak sekedar tahu semata, adapun yang telah diterapkan

1. Diet plastik

Kini setiap keluar rumah saya usahakan membawa tas belanjaan, siapa tahu mau beli sesuatu. Dan kalaupun lupa lebih memilih memegang dengan tangan atau memasukkan dalam tas belanjaan tersebut. Selain itu juga membawa Tumblr saat bepergian. Lumayan mencegah bertambahnya botol plastik si penghuni tong sampah. 

2. Berpikir ulang sebelum belanja

Pernak pernik lucu bikin mupeng tapi itu dulu, kini cukup melihat dari jauh saja udah bahagia . Sengaja tidak membeli karena suatu saat jika udah bosan terus dibuang dan berpotensi menjadi sampah. Untuk pakaian pun juga tidak seperti dulu, membeli karena tren. Saya akan memakai pakaian sampai pudar dan hancur maksudnya kalau robek dijahit lagi intinya pakai terus. Cara yang dilakukan untuk cegah kebosanan lantaran memakai pakaian yang sama, cukup dengan memadupadankan dengan pakaian lama. Awalnya agak berat terutama perempuan yang suka keindahan. Namun kini biasa aja apalagi setelah tau fashion termasuk penyumbang kerusakan lingkungan dan juga berapa banyak pakaian yang harus berakhir ditempat sampah lantaran pemiliknya bosan. 

3.Memilah sampah dan menggunakan kembali

Saya memilah sampah seperti botol kaca, kaleng dan plastik. Prinsip reuse, menggunakan kembali barang tersebut. Contohnya botol kaca untuk wadah penyimpanan bumbu sedangkan kaleng dan plastik kemasan sebagai pot.

4.membuat kompos

Kompos adalah hasil penguraian sisa organik. Ketika diuraikan dengan baik, kompos akan menyuburkan tanah. Kalau tanahnya subur, tanaman pun tumbuh subur. Mengompos bisa menjaga ketahanan pangan, sepakat? Jadi, kita bisa menanam sayuran dan buah menggunakan tanah kompos. Indahnya siklus material bukan?

Kenapa sampah di TPA tidak boleh dicampur?  Ternyata gunungan sampah itu miskin oksigen dan ketika sampah organik datang maka proses pembusukan akan menghasilkan Gas Metan (CH4). Gas ini merupakan salah satu kontributor penyebab bertambahmnya panas bumi. Selain itu, air lindi yang dihasilkan dari TPA mencemari lingkungan karena didalamnya terdapat berbagai senyawa kimia organik maupun anorganik serta sejumlah bakteri patogen.  Padahal, air lindi yang matang (dikomposkan) bisa dijadikan pupuk cair. Sampah organik jika tak dikelola dengan baik jadi masalah baru.  

Membuat kompos itu mudah, cukup sediakan alatnya seperti keranjang berlubang, pot gerabah, ember bekas. Kemudian bahan organik terdiri dari material hijau dan cokelat. Material hijau berupa sisa organik segar berwarna hijau, seperti daun, bunga, sisa buah dan sayur, teh, ampas jus, tulang, nasi, daging, sisa makanan, makanan basi, dll. Sedangkan bahan coklat berupa daun kering, sekam mentah, sekam matang, serbuk kayu, ranting, kertas, koran, kardus dll. 

Semenjak membuat kompos saya merasakan jumlah sampah yang dibuang sedikit, sampah hijau terutama yang berasal dari dapur selalu ada setiap hari. Ketika orang harus menenteng kiri kanan sembari menunggu bus pengangkutan saya bahagia hanya menghasilkan sampah selama 1 kresek saja selama 1 Minggu. Kebahagiaan lainnya bisa konsisten mengelola sampah.


ZWC menghidupkan siklus material dikawasan

Melaksanakan Zero waste mandiri bikin lelah dan hasilnya pun belum nampak signifikan, maka dari itu perlu usaha bersama untuk mendukung kegiatan ini. Salah satunya dengan mendirikan Zero waste Cities(ZWC). Program ini menitikberatkan pada model pengelolaan sampah berwawasan lingkungan, prinsip berkelanjutan dan berkeadilan bagi masyarakat. Tujuannya untuk mengurangi beban pengelolaan sampah di tingkat Kota/ Kabupaten. Bila mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah maka terjadi pengurangan sampah menuju TPA.

Awalnya program ZWC diciptakan  oleh Mother Earth Foundation di Filipina, kemudian YPBB menyesuaikan dengan kondisi di wilayah Indonesia. Tepatnya di tahun 2017 ada tiga kota, yaitu Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung. Tahun 2019 program ini merambah ke Denpasar dan Surabaya yang akan dijalankan oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) serta Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton).

Progam ZWC ini memiliki nama yang unik tujuan untuk mudah diingat. Di Bandung dikenal dengan nama Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan) sedangkan daerah Cimahi Barengras (Bareng-bareng Kurangi Sampah). Dalam melaksanakan programnya daerah didampingi oleh YPBB. Keberhasilan program sudah terlihat dari berkurangnya jumlah sampah yang masuk ke TPA, dikota Bandung telah tertangani sampah dari sumbernya 23,13% sedangkan di Cimahi sekitar 38%.  

Keberhasilan Zero waste Cities di dua daerah percontohan ini sudah sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah yang menyatakan bahwa pengurangan harus dari sumbernya. Pada Peraturan Pemerintah No. 81/2012 mengedepankan peran pengelola-pengelola kawasan untuk menjalankan sebanyak mungkin urusan pengelolaan sampah.

Bagaimana pelaksanaan program dilapangan? Tim relawan atau kader akan memberikan informasi kepada pemilik rumah bahwa sampah harus dipilah sebelum dijemput. Pisahkan sampah rumah tangga non organik(yang tidak membusuk) dan organik seperti sampah rumah tangga yang berupa sisa makanan seperti sayuran atau buah-buahan. Masukkan organik ke dalam wadah bekas seperti ember. Kemudian petugas datang untuk mengambil kedua jenis tersebut. Untuk sampah organik akan dimasukkan dalam ember milik petugas kemudian dikomposkan hari. Adapun pelaksanaan pengelolaan kompos disesuaikan dengan karakter warga dan potensi yang dimiliki wilayah tersebut seperti bata terawang, lubang kompos dan biodigester.  Sedangkan sampah non organik akan dijual oleh petugas. Hanya sampah residu saja yang menuju TPA.

Keberadaan ZWC menghidupkan siklus material dikawasan, kompos yang telah jadi dari komposter akan diberikan lagi kepada warga untuk menanam sayuran atau buah yang bisa dimakan lagi, dari alam kembali ke alam. Indahnya hidup ini.



You Might Also Like

0 komentar

Hai... silahkan tinggalkan pesan dan tunggu saya approve ya...
terima kasih udah berkunjung

sosial media

LinkedIn

KSB

Total Pageviews

Kelas Growth dari Growthing.id*