Entah Sosial Atau Psikal Distancing, Harus diterapkan DiPandemi Covid-19

April 24, 2020


5 minggu yang lalu Ayah menceritakan situasi saat berobat ke Rs. Ada jarak yang jauh sehingga agak sungkan ngobrol , jadi kursi ruang tunggu diberi tanda silang dan jangan dudukin tanda tersebut. Saat konsultasi pun dokter menggunakan masker dan sarung tangan. Ketika akan menggeser kursi biar lebih dekat,  dokter langsung melarang ayah. 
Ayah merasa tak nyaman dengan situasi tersebut dan saya menjelaskan itu namanya sosial distancing (pembatasan sosial).Terdengar asing bagi golongan tua lantaran belum ada sosialisasinya

Sosial Distancing yang berubah nama

Cara untuk mengurangi risiko penyebaran virus corona covid-19 lebih banyak dengan memberikan batasan sosial caranya dengan menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak antar manusia, dan menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang.

Berjalan waktu istilah berubah menjadi physical distancing. Lebih menitik beratkan pembatasan fisik saja, Jadi WHO ingin memberikan penegasan kalau jangan ada kontak fisik selama Pandemi. Jika kangen dengan orang-orang terkasih bisa dengan memanfaatkan secara maksimal jaringan internet atau sambungan telepon.

Seperti yang diketahui cara penularan virus corona covid-19 dari droplet dan bersentuhan dengan orang lain (berjabat tangan, berpelukan , bergandengan).
Kebijakan physical distancing adalah tindakan yang tepat. 

Berapa jarak aman minimal jarak yang direkomendasikan?  Menurut CDC dan seorang ahli epidemiologi di Temple University, 6 kaki (sekitar 2 meter). Ketika ada droplet dari individu yang batuk dan bersin tidak akan sampai hamburannya 2 M.

Selain jaga jarak fisik ada juga aturan untuk tetap meninggalkan segala aktivitas di luar rumah yang bersifat tidak penting. Semua kegiatan dialihkan ke rumah seperti belajar, bekerja dan beribadah. 

Penerapan nyata physical distancing

Ditempat saya penerapannya belum benar-benar maximal. Acara berkumpul seperti yasinan memang ditiadakan sekolah diliburkan tapi ibu-ibu masih aja jalan kesana kemari dengan anaknya dan kalau ketemu mereka ngak jaga jarak. Errr...

Hasil seraching, tak ada peraturan yang menegaskannya. Hanya himbauan dan penjelasan standar, jangan menyentuh barang di area publik, seperti  bolpen, gagang pintu  dan lain-lain. Wajar saja banyak yang acuh lantaran tak ada punish yang akan diterima jika tak mengikuti.

Mungkin tempat kami jauh dari ibukota propinsi sehingga masyarakat masih merasa aman saja sehingga masih ada sholat berjamaah.

Kebijakan lain yang diterapkan adalah PSBB, ini diterapkan oleh masing-masing daerah. Mirip dengan pembatasan fisik tapi cakupannya lebih luas seluruh wilayah provinsi.

Cara saya menerapkan 

Sebenarnya, saya bukan orang yang terlalu ramah di kehidupan sosial. Tapi ketika ada himbauan merasa kurang nyaman melakukannya tapi demi kebaikan bersama saya menerapkannya.

Saat keluar rumah mencari tempat belanja yang tak ramai dan ada kebijakan batas satu orang dengan orang yang lainnya minimal satu meter.  Jika ketemu orang dan ngajak ngobrol sekadar saja dan tidak melepaskan masker.

Semoga semua cepat usai

#bpnramadan2020

You Might Also Like

0 komentar

Hai... silahkan tinggalkan pesan dan tunggu saya approve ya...
terima kasih udah berkunjung

KSB

yang diikuti

Blogger Perempuan
Indonesia hijab blogger

Like us on Facebook

Total Pageviews

Flickr Images

Daisypath Anniversary tickers