Menembus Batas Dalam Menyiapkan Tradisi Lebaran

June 20, 2019

Judulnya kayak sinetron gitu ya, padahal ceritanya tentang persiapan lebaran.
Walaupun begitu, percayalah ini bukan klik bait. Sampai hari ini saya masih sulit menuliskan judul yang bagus dan prinsipnya adalah tidak akan klik bait sebab itu dosa. *menurut saya

Di lebaran kali ini saya proud ama diri sendiri loh,  bisa menembus batas maksudnya melakukan hal yang ngak biasa dengan kondisi serba kekurangan.  Pasti pada bingung kan?

Baeklah kita lanjut, tradisi lebaran itu identik dengan kue dan masakan. Ditahun ini kesemua itu bikin sendiri dan ngak ada yang beli. Bukan masalah jika saya hobi masak, bukan masalah jika punya peralatan lengkap, bukan masalah jika pintar masak,
bukan masalah jika pernah melakukan sebelumnya. Kesemua itu No, ngak ada pada diri saya.

Tekad yang kuat dan ingin ngalahin tantangan serta dukungan si udalah yang bikin saya berhasil.

Ketika ibu saya bilang ngak sempat ngirim kue kering disaat itu kepanikan melanda. Kue haeus dibikin, bisa dibeli sebenarnya tapi kapok. Pernah membeli tapi harganya selangit dan rasanya ndak manakah. Rugikan?

Akhirnya saya ambil keputusan tahun ini bikin kue walaupun tanpa oven. Ngak pernah kepikiran berada disaat seperti ini sehingga oven dianggap sebagai benda yang ngak penting dan untuk apa dibeli.

Ketika disituasi seperti ini nyesal kenapa dulu ngak diangsur? Kalau sekarang beli dananya belum ada.

Sedikit deg-degan saat memangang kue kering, apakah berhasil?  Seumur hidup baru kali ini bikin kue dan ngak ada pemanggang pula. Tantangan berat ini.

Akhirnya kue itu jadi dengan durasi yang lama, gimana ngak lama adonan ngak bisa masuk banyak ke teplon dan juga apinya sueeper kecil. Sedangkan untuk rasa pasti enak, kan tinggal nyontek aja. Untuk kematangan sampe bawahnya bewarna coklat untung ngak pahit. *belum sampe gosong

Tradisi lainnya adalah kue basah, si uda kasian liat saya yang kerepotan bikin kue kering dengan minim alat dan mengusulkan beli aja. O. K baiklah bosque

Pada malam takbiran saya udah mewanti-wanti ngak mau keluar rumah, sibuk banget mempersiapkan segala sesuatu. Selain itu yang bikin malas keluar adalah ramai banget sebab ada pawai dan petasan.

Jadi disini tak hanya mengadakan takbiran dimasjid tapi juga pawai yang diikuti oleh seluruh RT sekecamatan dan bisa dibayangkan jumlah manusianya dan lamanya menunggu selesai arak-arakan. Tahun lalu kami menonton suasana ramai dan terjebak macet.  Pulang kerumah itu udah malam dan badan lelah, akhirnya pagi-pagi keteteran siapin segala hal.

Saya meminta kalau mau keluar sore aja untuk cari bolu tapi kesibukan bikin kami lupa dan akhirnya membeli habis isya. Berkeliling mencari bolu. Mungkin ini kerja teraneh, mencari penjual dimalam hari. Dibayar mahalpun takan ada yang mau, penjualny udah capek dari pagi dan pastinya dia harus nyiapin segala sesuatu untuk nyambut hari raya.

Sepanjang jalan orang duduk menunggu acara dan petasan mulai menyalak. Duh,  bikin saya ngak nyaman. Takut terkena padahal anak-anak itu jauh bermainnya. Tahun lalu ada yang menembakkan petasan besar dan itu ngarah kabel listrik, ada sedikit percikan dan kebetulan saya dekat situ. Iee... Seram

Keberadaan petasan tak lengkap saat puasa dan ramadhan, sehingga tak mengherankan ketika ramdahan bermunculan penjualnya.

Awalnya petasan itu dipakai oleh masyarakat Betawi sebagai budaya. Kemunculannya akibat sepinya kondisi Jakarta pada 1940 hingga 1950. Penduduk belum banyak dengan jarak rumah yang berjauhan, jadi cara untuk mengundang orang ketika mengadakan hajatan seperti menikahkan anak, khitanan, naik haji, Maulid Nabi, hingga Isra Mi'raj dengan menyalakan petasan rencengan panjang. *cara yang efektif

Jadi, bunyi petasan sebagai ungkapan kegembiraan, sehingga muncul saat puasa dan lebaran. Tapi tak semua orang menyukai bunyian seperti itu. Sayang banyak yang egois dan tetap menyalakan demi kesenangannya dan melupakan orang disekitar. Huff...

Petasan sebenarnya budaya Tiongkok digunakan untuk mengusir roh halus seperti jin, setan, atau iblis. Konon di daratan China terjadi wabah penyakit mematikan. Wabah itu menjalar dengan cepat hingga korban berjatuhan.

Setelah berkeliling dan ngak menemukan akhirnya kami memutuskan membuat sendiri bolu. Dadakan lagi ceritanya mulailah mencari resep yang pas, maksudnya ngak ribet dengan bahan yang ada dirumah.

Dipukul 22.00 wib mulailah membuat bolu dan kendala oven disubsitusi oleh magic com. Seperti bikin kue kering proses ini memakan waktu lama.

Menembus batas yang melelahkan tapi membahagiakan karena berhasil. Hasilnya hampir sama dengan menggunakan oven.



You Might Also Like

0 komentar

yang diikuti

Blogger Perempuan
Blogger Perempuan
Indonesia hijab blogger

Like us on Facebook

Total Pageviews

Flickr Images

Daisypath Anniversary tickers