Hal-Hal Sederhana yang Dilakukan Untuk Mencegah Penyakit TBC

March 27, 2019

Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS). Tujuan diadakan peringatan adalah untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa TBC sampai saat ini masih menjadi epidemi di dunia.

Tema yang diusung HTBC tahun ini adalah “Peduli TBC, Indonesia Sehat”. Pesan yang ingin disampaikan adalah kepedulian dan peran serta pemangku kebijakan dan masyarakat harus ada dalam mendukung Eliminasi TB di Indonesia.

Ternyata,  tema HTBC kita sejalan dengan global yaitu  “Wanted: Leaders for a TB-free world. You can make history. End TB”.

Penyakit tertua di dunia ini jumlahnya tak jua berkurang. Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO, ) Indonesia menempati urutan ketiga negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia dengan jumlah kasus 842 ribu, di bawah India dengan 2,74 juta kasus dan China di posisi kedua sebanyak 889 ribu.

Berbagai upaya di negeri ini dilakukan untuk mengatasi penyakit TBC seperti melibatkan orang terdekat dan menjadikannya sebagai PMO (pengawas minum obat). Akan dipilih seorang anggota keluarga yang dipercaya, disengani dan telaten akan mengawasi penderita TBC.

Tugas PMO adalah, sudahkah minum obat dengan benar, cara minumnya? Ketepatan waktu dan dosisnya. Tugas lain memastikan obat sampai ke tangan penderita  dan tidak putus.  PMOlah yang menjemput obat ke pelayanan kesehatan.

Berbeda dari program sebelumnya ditahun 2019 ada yang baru bernama Gerakan Temukan TBC Obati Sampai Sembuh (TOSS TBC),  merupakan kegiatan penemuan secara aktif dan masif sekaligus mendorong pasien TBC untuk memeriksakan diri dan menjalankan pengobatan hingga tuntas.

Tak cukup upaya pengobatan untuk atasi penyakit menular ini, perlu peningkatan pengetahuan untuk pencegahan dan pengendalian. Caranya dengan mengadakan penyuluhan tentang penyakit kemudian setelah temukan penemuan kasus yang melibatkan masyarakat terutama kader.

Penemuan kasus oleh masyarakat merupakan bentuk deteksi dini Investigasi kontak pada pasien TBC dan TBC laten ( pasien yang tidak atau belum menunjukkan gejala). Biasanya yang terkena TBC laten adalah yang dekat dengan pasien atau ada kontak.

Pasien TBC laten dapat menjalani pemeriksaan dan jika ditemukan gejala lakukan pengobatan sampai sembuh, agar terhindar dari resistensi. Maksud resistensi adalah obat yang biasa digunakan ngak mempan lagi, sehingga jumlah obat diminum semakin banyak dan lama pengobatan juga bertambah.  Efek lainya adalah reaksi dari obatnya lebih berat dari biasanya. Nama lain dari TBC resisten adalah TB latent.

Bicara TBC, tak hanya tentang keganasannya, penyebarannya tapi ada hal lain yaitu produktivitas dan ekonomi. Pengobatan yang lama membuat banyak pasien yang harus kehilangan pekerjaan ini berimbas pada kerugian ekonomi, menurut data pasien TB sebanyak 26% berisiko dan pasien TB MDR berisiko 53%.

Negara pun mengalami kerugian secara ekonomi untuk mengobati pasien TB mencapai 130 milyar per tahun dan 6.2 milyar per tahun untuk pasien TB MDR. Jika tertular minumlah obat secara rutin dan teratur

Upaya  yang bisa kita lakukan dalam mencegah tertular penyakit TBC paru

1. Menjaga kesehatan diri dengan hal sederhana seperti:

  • jika kita bersin tutuplah minimal dengan tangan.
 Jangan hanya  hatcinnnn aja saat bersin. Kasiankan, teman disamping kita. Cara penularan lainnya dari dahak, jangan asal buang sembarangan. Selain jijiq, bahaya bagi orang lain.

  • Rajin mencuci tangan dengan sabun setiap selesai aktivitas. 
Tangan anggota tubuh yang paling kotor, banyak kegiatan yang dilakukannya dan 98%  kuman disebarkannya.

  • Mandi 2 kali sehari
  • Makan-makanan kaya bergizi

2.menjaga kesehatan lingkungan sekitar

3.Tidak malu memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan jika berkontak dengan penderita TBC


You Might Also Like

0 komentar

yang diikuti

Blogger Perempuan
Blogger Perempuan
Indonesia hijab blogger

Like us on Facebook

Flickr Images

Daisypath Anniversary tickers