Fieldtrip Dan Kenangan Yang Tertinggal

December 19, 2017


Semester 5 kami dihadapkan pada fieldtrip dan ini kegiatan wajib yang harus diikuti oleh semua mahasiswa kebidanan.
Tujuannya adalah pemantapan penerapan APN (asuhan persalinan normal).

Apn adalah penerapan persalinan normal yang mengacu kepada asuhan yang bersih dan aman selama persalinan dan setelah bayi lahir serta upaya pencegahan komplikasi (Depkes, 2004).

Intinya dalam APN bidan dituntut sabar dan tidak melakukan intervensi apapun untuk mempercepat proses kelahiran (prosesnya alami),contohnya adalah menganjurkan ibu pulang jika pembukaan masih lama dsb.

Kami diajarkan teori APN dikelas dan untuk penerapannya belum maksimal sebab hanya beberapa  BPS (bidan praktek swasta) yang baru menerapkannya.

Dikota besar penerapan APN sudah menyeluruh dan untuk itu kami harus mengikuti fieldtrip ini. Rumah sakit di kota Bandung  menjadi tujuan kami sebab di sana belum penuh mahasiswa kebidanan yang mengikuti fieldtrip.

Euforia naik pesawat dikuti dengan shopping dan berburu kuliner sudah di depan mata. Padahal, ini baru awal semester 4 dan pelaksanaannya akhir semester 5. Kami sudah merancang tempat yang harus dikunjungi. Inilah bentuk ketidaksabaran menunggu hari itu datang, seperti sebuah pribahasa "belum beranak sudah ditimang"

Bandung yang hanya bisa dilihat dari layar kaca sebentar lagi bisa kami jajaki. Melihat dari dekat tempat syuting acara musik, keluar masuk mall, mengunjungi tempat-tempat wisata ,memanjakan lidah dengan aneka kuliner dan belanja di cibaduyut dan pasar baru.

Trus belajar APN nya bagaimana? Ini nomor 1,tapi rugi jika tidak bisa mengunjungi semua yang menarik di Bandung. Entah kapan bisa menjajakan kaki lagi bersama para ladies. Tak salah jika dari sekarang harus diancar sebelum menyesal tidak maksimal explore kota bandung.

Hampir setiap hari pembicaraan berkutat dengan fieldtrip, meliputi kegiatan di RS, penyesuaian bahasa dan cuaca serta agenda hiburan meliputi jalan, kuliner dan shopping.  Dari kesemua bahasan itu ada satu pertanyaan polos teman saya yang membuat kami ngakak habis-habisan. "Apakah naik pesawat bikin mabuk seperti halnya naik bus? "

Hasil survey tak resmi yang saya lakukan kepada teman kuliah didapatkan bahwa "sebagian besar mereka baru pertama kali berkunjung ke luar propinsi dengan menggunakan pesawat "  dan saya termasuk bagian dari yang ikut merasakan pengalaman ini.

Pergi dengan bus ke propinsi lain bukanlah hal baru bagi saya tapi tidak dengan naik pesawat. Ada deg-degkan memikirkan semua itu , bahkan saya berpikir seberapa norakkah saat memegang tiket pesawat.

 Beruntung atau tidak semasa saya kuliah masih menggunakan Ponsel sejuta umat. Ponsel berkamera dengan berbagai bentuk , sebenarnya bisa membantu untuk fotografi tapi entah mengapa tidak ada yang mengabadikan tiket pesawat.  Masa itu medsos belum masuk Indonesia sehingga tidak ada ajang pamer dimedsos. *berasa tua. Akibat yang terasa susah menemukan file foto-foto lama dan kalaupun ada sudah dicetak dengan warna yang mulai kusam🙄

Untuk memaksimalkan pelaksanaan fieldtrip kami dibagi atas 3 kelompok, masing-masing didampingi 2 dosen pembimbing. Jarak berangkat antara 1 kelompok dengan yang lain itu 2 minggu.

Saya sengaja memilih kelompok ketiga yang keberangkatannya akhir Desember sehingga bisa tahun baru di bandung. *cerdiknya

Setiap ada kelompok yang sudah pulang, kami sengaja  mengorek informasi mereka sehingga mencegah hal yang tidak diinginkan. Bahkan yang mengarah kepada tindakan norak, misalnya saat dibandara atau naik ekslator dan lift di mall.

Keberangkatan kelompok 3 akhirnya tiba, kami berkumpul di depan bandara untuk dibagikan tiket oleh dosen. Menjelang masuk bandara dosen sudah berpesan bahwa tiket  pesawat harus dijaga terutama bagi yang keluar masuk. Iya...beberapa teman keluar masuk bandara menemui keluarganya, biasa pamitan dan menerima wejangan dari keluarga yang yang ditinggalkan.

Ini bagian yang buat sedih,saya tidak bisa seperti itu sebab merantau. Semua wejangan sudah didapatkan via telpon.

Akhirnya apa yang ditakutkan terjadi juga, ada teman nyaris tidak bisa berangkat karena tiketnya jatuh. Beruntung petugas bandara ada yang menemukan.

Perbedaan beli tiket jaman dulu dan sekarang adalah memesannya di agen perjalanan tour dan travel atau melalui situs maskapai penerbangan. Seandainya bisa pesan online maka teman saya tidak akan setengah mati ketakutan tidak bisa berangkat disebabkan tiketnya jatuh. Sebab datanya bisa dengan mudah ditemukan, atau setidaknya repor pemesanan tiket akan masuk ke email.

Teknologi secanggih sekarang jika sudah ada di masa itu , maka pesan tiket pasti lebih mudah dengan blibli travel .  Tiket itu tanpa diprint bisa ditunjukkan saat check in, tentunya email yang digunakan sudah benar.

Hal lain yang menarik saat dibandara adalah bertamu dengan artis Indonesia Idol seperti judika, Maya, monita. Kesempatan langka ini berada didepan mata,  saat yang lain mengejar mereka untuk berfoto. Mereka tiba-tiba saja lewat didepan saya. 

Berita buruknya saya tidak minta foto dan tanda tangan mereka. #menyesalnya sampai sekarang

Efek jarang nonton tv membuat saya tidak hafal dengan mereka. Nyesak banget saat kesempatan ada tapi dilewatkan begitu saja. Entah kapan lagi bisa foto bareng artis😭

Keunikan lain yang terjadi saat traveling ke Bandung adalah perbedaan suhu. Tubuh ini biasa dengan daerah panas ketika menjajaki Bandung terasa berbeda. Kondisi diperburuk dengan musim hujan diakhir desember, lengkap sudah dinginnya.

Kebandelan belum berakhir ketika masa kuliah, hujan tak menyurutkan langkah untuk mengunjungi kawah putih, tangkuban perahu dan ciwidey. Walaupun dosen telah menginstruksikan tinggal di mobil tapi kami tetap bergerak menuju objek wisata tersebut. Akibatnya kami sekamar masuk angin berjamaah dan saling kerokan 😊

Dompet makin meleleh saat berbelanja di pasar baru dan cibaduyut. Dan over bagasi, ketika berangkat hanya bawa satu tas saat pulang telah beranak menjadi 2, bahkan ditambah dengan tentangan.

Hal terakhir yang dilakukan adalah menyaksikan ramainya tahun baru bersama warga Bandung di mall. Keluar masuk mall sambil berharap ketemu artis idola.

Bagaimana dengan praktek di Rs?  Lancar dan seru, palingan kendala bahasa saja. Beberapa ibu bersalin fasihnya bahasa sunda, ini membuat kami harus rajin bertanya terjemahannya kepada teman fieldtrip lainnya yang berasal dari Bandung.

 Ini perjalanan pertama dan sekaligus terakhir bersama teman-teman . You knowlah Setelah  wisuda kami berpisah ,kembali ke daerah masing-masing .

10  tahun telah berlalu keseruan fieldtrip masih terekam dimemori. Dan begitu sulit mengumpulkan kelompok 3 untuk mengulang kembali keseruan traveling. Berbagai kendala dihadapi seperti pekerjan, keluarga dan dana.

Fieldtrip ini memberikan berbagai cerita dan pengalaman. Benar kata orang makin banyak berjalan makin banyak yang dilihat,  pengalaman traveling tidak bisa dilupakan bahkan bisa menjadi guru dalam kehidupan. Mengenal berbagai karekter orang ,wilayah dan bahasa.

Keinginan traveling selalu terngiang apalagi jika menggunakan tiket gratis. Ini bisa terwujud jika sering transaksi diblibli.


 Iya..  Blibli akan memberikan tiket sriwijaya air secara gratis untuk pulang pergi dengan rute yang telah ditentukan. Ini tak masalah bagi saya sebab banyak daerah di Indonesia belum bisa dikunjungi. Adapun periodenya mulai dari tanggal 20 November – 20 Desember 2017,yuk buruan!

Pergi sendiri tidak seru bukan, tidak bisa "gila-gilaan ",ini terasa banget saat saya traveling ke Bandung. Kelompok 3 merupakan #sahabatperjalanan yang seru.

 Mulai sekarang temukan #Sahabatperjalananmu bersama #bliblitravel.

Ikuti Blibli.com Blog Competition #SahabatPerjalananmu. Hadiah Tiket Pesawat PP & Voucher Belanja


You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

Flickr Images

Daisypath Anniversary tickers