OAT Gratis Dan Bermutu

April 19, 2014

melanjutkan serial minggu lalu...
Hesti menceritakan keluhan yang dirasakan kepada dokter yaitu batuk berdahak lebih dari 3 minggu, demam, berkeringat dimalam hari dan berat badan menurun. Dokter mencurigai hesti terkena tuberculosis (TB) kemudian memberikatan pot sputum untuk periksa dahak yang berjumlah 3 buah dengan cara SPS yaitu sewaktu, pagi dan sewaktu. Aturannya adalah ketika di puskesmas dahak ditampung di pot sputum, besok pagi dan ketika dipuskesmas lagi. Artinya dahak diperiksa 3 kali dalam waktu 2 hari. 



pot sputum ,koleksi pribadi
Hesti beruntung tinggal didaerah yang memiliki puskesmas satelit, setelah dahaknya di fiksasi di sini kemudian dikirim ke puskesmas rujukan mikroskopis. Sementara menunggu hasil dahaknya dokter menjelaskan tentang penyakit TB, cara penularaanya, tindakan yang bisa dilakukan untuk tidak menularkan orang lain dan pengobatan.
TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang ditularkan melalui udara (melalui percikan dahak penderita TB). Tindakan yang bisa dilakukan adalah tidak membuang dahak dan meludah sembarangan tempat, serta menutup mulut ketika batuk dan bersin.Mengusahakan ruangan mendapat sinar matahari, memiliki ventilasi cukup dan menjaga kebersihan lingkungan. Jika telah terinfeksi TB maka akan  menularkan ke 10-15 orang lainnnya setiap tahun.Seseorang dapat terpapar  TB hanya dengan menghirup sejumlah kecil kuman TB.Masa pengobatan TB ini akan tuntas minimal 6 bulan 

Hari yang mendebarkanpun datang dan hesti naik tingkat dari suspek menjadi terinfeksi berdasarkan hasil pemeriksaan BTA positif. Hesti menangis tidak siap menerimanya karena stigma penyakit ini begitu menyakitkan. Hesti membayangkan akan terkucil dari lingkungan jika ada yang mengetahui penyakitnya, begitu banyak akibat sosial yang disebabkan TBC. Beban ini terasa berat tapi apa daya itulah kenyataanya. Hesti harus meminum obat selama 6 bulan, membayangkannya saja sudah melelahkan dan jika lupa harus diulang dari awal. Enam bulan terasa lama dan akan memambah biaya hidup jika membayar, menurut WHO seseorang yang menderita TB diperkirakan akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 3 – 4 bulan. Bila meninggal akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 15 tahun.Tapi syukurlah ternyata OAt (Obat anti tuberkolosis )gratis. 
Hesti kemudian dikenalkan ke perawat yang memegang program TB, setiap minggu hesti akan berhubungan dengan perawat ini, sehingga tidak ada kerancuan pengambilan oat dan bisa diobservasi jika ada keluhan barulah berkonsultasi dengan dokter. Selain dengan perawat hesti juga konsultasi dengan ahli gizi. 

Gratis itu tak selamanya jelek 

fakta TB adalah setiap satu menit muncul 1 penderita tb paru dan setiap 4 menit 1 orang meninggal akibat TB di Indonesia. Melihat hal ini pemerintah berupaya menekan jumlah penderita TB dengan memberikan pendidikan kepada masyarakat dan memberikan layanan maupun pengobatan gratis bagi penderita TB.
obat tb,koleksi pribadi
Strategi yang direkomendasikan untuk mengendalikan TB (DOTS = Directly Observed Treatment Shortcourse) yaitu strategi pengobatan Penderita TB dengan menggunakan panduan obat jangka pendek dan diawasi oleh PMO. DOTS terdiri dari 5 komponen yaitu komitmen pemerintah untuk mempertahankan control terhadap TB; deteksi kasus TB di antara orang-orang yang memiliki gejala-gejala melalui pemeriksaan dahak; pengobatan teratur selama 6-8 bulan yang diawasi; persediaan obat TB yang rutin dan tidak terputus; dan sistem laporan untuk monitoring dan evaluasi perkembangan pengobatan dan program.

Pengobatan TBC terdiri dari dua fase, fase intensif(awal) untuk 2 bulan pertama dan  fase lanjutan selama 4 bulan.Obat TB yang diberikan ke pasien, sebagian besar dalam bentuk tablet kombinasi  atau paket  fix dose combination (FDC)  yang berisi kombinasi obat INH, Rimfapisin, Pirazinamid, Entambutol
fase intensif , sumber

fase lanjutan
Program DOTs ini merata diseluruh indonesia, artinya walaupun gratis OAT ini sama mutunya dengan obat paten mengandung Antibiotik yang dapat menghancurkan kehidupan Micobakteriumtubercolosis. Apapun kondisi miskin, kaya , tua muda akan mendapatkan OAT ini sama jumlahnya dan bentuknya.

setelah obat apalagi???

OAt gratis sangat membantu bagi penderita TB, harusnya melihat kesungguhan pemerintah Tb bisa angkat kaki dari Indonesia. Tapi yang terjadi adalah TB tetap ada bahkan menjadi MDR. Keadaan yang terjadi dilapangan adalah ketika telah mengkonsumsi Oat dalam waktu 1 bulan setelah pengobatan kondisi membaik yaitu berat badan mulai meningkat, kadang-kadang membuat pasien merasa sembuh dan tidak meneruskan pengobatan.
Atau saat mengkonsumsi Oat dapat terjadi efek samping rasa mual dan muntah, kesemutan, urin seperti air teh hal ini membuat panderita TB menghentikan minum Obat. Ini sangat berbahaya akan membuat pasien berisiko mengalami kebal terhadap OAt yang sudah pernah diberikan. Apabila hal ini terjadi tentu penanganannya akan menjadi sulit. 

Selain pengobatan usaha  yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan penderita TB adalah memperhatikan makanannya dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi, tidak merokok dan minum alkohol, istirahat harus cukup. Penyakit TBC dapat disembuhkan secara total apabila penderita secara rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan memperbaiki daya tahan tubuhnya. 


Pasien TB dinyatakan sembuh apabila mengikuti setiap proses pengobatan selama 6 bulan tanpa putus. Namun sayangnya, tidak sedikit pasien  TB yang putus dijalan Padahal, kelalaian pasien suspek TB ini menyebabkan kuman Mycrobacterium Tb yang ada di dalam tubuh mereka menjadi kebal terhadap obat atau Multi Drug Resistance (MDR).Salah satu faktor penyebab kuman menjadi resisten adalah pengobatan yang tidak tuntas, sehingga kuman yang belum benar-benar mati akan membentuk sistem kekebalan baru. Akibatnya ketika diberi obat yang sama, kuman itu sudah tidak mempan lagi.Biasanya kuman Mycobacterium Tb tidak lagi mempan terhadap obat Rifampisin dan INH secara bersamaan atau disertai etabutol, steptomicin dan pirazinazid.  

Bila sudah begini, harus dilakukan pengobatan yang tingkatannya lebih tinggi lagi, dengan obat yang lebih banyak, waktu penyembuhan yang lebih panjang dan juga efek samping yang lebih kuat. Waktu penyembuhan untuk TB MDR ini adalah 2 tahun dan pasien MDR  harus check up dan minum obat setiap hari 

Dengan adanya dukungan-dukungan sosial pasien TB dan TB MDR akan lebih termotivasi untuk sembuh dari penyakitnya. 

Tulisan ini diikutkan dalam serial  temukan dan sembuhkan penderita TB 

sumber :
  •  www.tbindonesia.or.id
  • www.stoptbindonesia.org
  • www.depkes.go.id
  • www.pppl.kemkes.go.id
  • www.who.org

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Daisypath Anniversary tickers