Wednesday, 19 January 2011

tokoh epidemiologi

Untuk berkembangnya suatu ilmu tidak lepas dari peran Tokoh-Tokoh Epidemiologi
1. Hippocrates (Abad ke-5)
            Membangkitkan kesadaran akan kemungkinan terjadinya  penyakit pada manusia berikatan dengan faktor  eksternal, yaitu: musim, angin, udara, air yang di minum, jenis tanah, perilaku manusia, dan jnis pekerjaan.
2. John Graunt (1662)
            Merupakan yang pertama melakukan kuantifikasi  atas kejadian kesakitan dan kematian dengan menganalisis laporan mingguan kelahiran dan kematian di kota London.
3. William Farr (1839)
            Orang yang pertama menganalisis statistic kematian untuk mengevaluasi masalah kesehatan. Beliau juga yang mengembangkan beberapa metoda penting dalam epidemiologi, seperti:  definisi populasi berisiko, populasi pembanding, dll.
4. John Snow (1854)
           Orang pertama yang mengembangkan metoda intestigas wabah yang dapat mengantarkan penyelidikan kea rah penyebab. Beliau menyelidiki dan menganalisis kejadian kematian karena wabah kolera dengan langkah-langkah mengembangkan metoda intesvigasi, menyusun hipotesis, dan membuktikan tesis tersebut. Beliau dianggap sebagai The Father of Epidemiology.
5. Antonio van Leewenhoek
                    Dia seorang ilmuwan amatir yang menemukan mikroskop yang menemukan mikroskop, penemu bakteri dan parasit (1674), penemu spermatozoa ( 1677). Penemu bakteri telah membuka tabir suatu penyakit yang akan sangat berguna untuk analisis epidemiologi selanjutnya.
6.      Robert Koch
Namanya tidak asing jika dihubungkan dengan penyakit tuberculosis pada tahun 1882. Selain itu Koch berperan dalam memperkenalkan tuberculin pada tahun 1890, yang dianggapnya sebagai suatu cara pengobatan TBC.
7.      Max Van Patternkofer
Dia ingin membuktikan bahwa vibrio bukanlah penyebab kolera. Dan percobannnya pun juga menunjukkan demikian. Salah satu kemungkinannya karena dosis yang digunakannya terlalu kecil.
Dengan demikian terjadilah perubahan dan perkembangan dasar berpikir para ahli kesehatan masyarakat dari masa ke masa sesuai dengan kondisi zaman di mana mereka berada.

I.    Teori-Teori Dalam Epidemiologi
Beberapa teori tentang terjadinya penyakit yang pernah dikemukakan adalah :
1.      Contagion Theory
Teori ini mengemukakan bahwa untuk terjadinya penyakit diperlukan adanya kontak antara satu person dengan person lainnya. Teori ini tentu dikembangkan berdasarkan situasi penyakit pada masa itu, di mana kebanyakan penyakit yang melanda adalah penyakit yang menular terjadi karena adanya kontak langsung. Teori ini bermula dikembangkan berdasarkan pengamatan terhadap epidemic dan penyakit lepra di mesir.
2.      Hippocratic Theory
Hippocrates mengatakan bahwa kausa penyakit berasal dari alam; cuaca dan lingkungan. Teori ini mampu menjawab masalah penyakit yang ada pada waktu iutu dan dipakai hingga tahun 1800-an. Namun, akhirnya teori ini tidak mampu menjawab tantangan berbagai penyakit infeksi lainnya yang mempunyai rantai penularan yang lebih berbelit-belit.
3.      Miasmatic Theory
Miasmatic theory menunjukkan gas-gas busuk dari perut bumi yang menjadi kausa penyakit. Teori ini punya arah cukup spesifik, namun kurang mampu menjawab pertanyaan tentang penyebab berbagai penyakit.
4.      Epidemic Theory
Teori ini mencoba menghubungkan terjadinya penyakit dengan cuaca dan factor geografis (tempat). Suatu zat organic dari lingkungan dianggap sebagai pembawa penyakit. Teori ini diterapkan John Snow dalam menganalisis terjadinya diare di London.
5.      Teori Kuman
Suatu kuman (mikroorganisme) ditunjuk sebagai kausa penyakit. Teori ini sejalan dengan kemajuan teknologi kedokteran, yaitu ditemukannya mikroorganisme. Kuman dianggap sebagai penyebab tunggal penyakit. Namun selanjutnya ternyata bahwa teori ini mendapat tantangan dari berbagai penyakit kronis, seperti penyakit Jantung dan Kanker, yang penyebabnya bukan kuman.
6.      Teori Multi Kausa
Teori ini disebut juga sebagai konsep multi factorial di mana teori ini menekankan bahwa suatu penyakit terjadi sebagai hasil dari interaksi berbagai factor. Misalnya, factor interaksi lingkungan yang berupa factor biologis, kimiawi, dan social memegang peranan dalam terjadinya penyakit

epidemiologi

                      

Banyak istilah didunia kesehatan, awalnya aq bingung, kalu ketemu sma orang dinas kesehatan sering menggunakan kata ini. So, minta petunjuk sama om canggih(google). Ketemu deh, semoga coretan aq bisa bermamfaat untuk teman-teman.
Epidemiologi berasal dari Bahasa Yunani :,
 Epi : pada, atas
 Demos : rakyat, penduduk
 Logos : ilmu
So epidemiologi itu ilmu yang mempelajari hal-hal yang terjadi pada rakyat (penduduk)

Epidemiologi merupakan salah satu bagian dari pengetahuan Ilmu Kesehatan Masyarakat yang menekankan perhatiannya terhadap keberadaan penyakit dan masalah kesehatan lainnya dalam masyarakat.
Beberapa arti epidemiologi menurut para ahli :
 Ilmu yang mempelajari penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang menentukan penyebaran penyakit pada manusia ( Mac Mahon & Pugh, 1970)
 Studi tentang faktor yang menentukan frekwensi dan distribusi penyakit pada populasi manusia ( Lowe & Koestrzewski, 1973)
 Pada intinya : ilmu yang mempelajari, menganalisis serta berusaha memecahkan masalah kesehatan/yang erat hub.nya dengan kesehatan pada suatu kelompok masyarakat tertentu.
 Penyebaran penyakit yang dimaksud adalah penyebaran penyakit menurut sifat-sifat orang, tempat dan waktu.
Pada awal perkembangannya epidemiologi mempunyai arti sempit. Epidemiologi hanya dianggap sebagai ilmu tentang epidemic. Pada perkembangannya selanjutnya hingga dewasa ini, Epidemiologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang Distribusi (Penyebaran) dan Determinan (Faktor-faktor penentu) masalah kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk pembuatan perencanaan dan pengambilan keputusan dalam menanggulangi masalah kesehatan.

Ruang lingkup epidemiologi tidak hanya mempelajari penyakityang bersifat menular/infeksi dan akut, namun juga mempelajari penyakit tidak menular juga kronis, masalah sosial/perilaku,penilaian terhadap pelayanan kesehatan, serta di luar bidang kesehatan.
Hasil yang diperoleh dari studi epidemiologi dapat digunakan untuk menentukan pengobatan suatu penyakit, melakukan pencegahan,atau meramalkan hasil pengobatan. Perbedaan antara ilmu kedokteran dengan ilmu epidemiologi teletak pada cara penanganan masalah kesehatan. Ilmu kedokteran lebih menekankan pelayanan kasus demi kasus, sedangkan epidemiologi lebih menekankan pada kelompok individu. 
epidemiologi tidak bisa berdiri sendiri, belum mandiri donk he..., selain membutuhkan ilmu kedokteranj uga membutuhkan disiplin ilmu, seperti :
1.      Demografi
2.      Sosiologi
3.      Antropologi
4.      Geologi
5.      Lingkungan fisik
6.      Ekonomi
7.      Budaya
8.      Statistika
Dari uraian diatas, jelaslah bahwa epidemiologi merupakan ilmu yang kompleks. Walaupun epidemiologi telah dikenal dan dilaksanakan sejak zaman dahulu, tetapi dalam perkembangannya mengalami banyak hambatan hingga baru pada beberapa dasawarsa terakhir ini epidemiologi diakui sebagai suatu disiplin ilmu, seolah-olah epidemiologi merupakan ilmu yang baru.
Epidemiologi sebagai suatu ilmu berkembang dari waktu ke waktu. Perkembangan itu dilatarbelakangi  oleh beberapa hal :
1.      Tantangan Zaman
        >>  Dimana terjadi perubahan masalah dan perubahan pola penyakit. Sewaktu zaman John Snow, epidemiologi mengarahkan dirinya untuk masalah penyakit tidak infeksi dan wabah. Dewasa ini telah terjadi perubahn pola penyakit kearah penyakit tidak menular, dan epidemiologi tidak hanya dihadapkan dengan masalah penyakit semata, tetapi hal-hal lain juga, baik yang berkaitan langsung ataupun tidak langsung dengan penyakit, serta masalah kesehatan secara umum.

2.      Perkembangan Ilmu Pengetahuan Lainnya
>>   Pengetahuan klinik kedokteran berkembang begitu pest disamping perkembangan ilmu- ilmu  lainnya seperti biostatistik, administrasi, dan ilmu perilaku (behavior science). Perkembangan ilmu-ilmu ini juga meniupkan angin segar untuk perkembangan epidemiologi.