Mau Bahagia? Jaga Diri dan Keluarga dari Toxic Positif

July 12, 2020

Jaga diri dan keluarga dari paparan toxic positif
Entah kali ke berapa badmood ini menyebabkan suasana tegang dirumah. Rona bahagia hilang dalam sekejap. Hal klise ini terjadi lagi dan lagi. Jujur saya benci suasana ini tapi ratusan purnama mengalaminya tak membuat saya bisa menghadapi. Selalu kalah!
Beberapa kali si Uda menghibur dan tak jarang itu lewat saja seperti masuk telinga kiri keluar ke telinga kanan. Sebuah kesia-siaan, nasehat itu tak melekat dihati. Haaah! Beruntung dia belum bosan, buktinya masih mengulang kata-kata penyejuk. Tapi pernah juga terlihat dia lelah, bagaimana tidak? Selalu hadapi hal yang sama.

Saya tak menyalahkan dia, manusia salalu punya batas kesabaran walaupun yang namanya sabar itu tak berbatas. Tak salah bukan jika menjadikan sabar itu ilmu tingkat tinggi, belajarnya terus menerus prakteknya setiap hari.

Katanya Lidah tak bertulang

Setelah menikah apa hal yang bikin beriak sebuah hubungan kalau bukan masalah anak. Awal menikah masih bisa tersenyum menjawab "udah isi?". Memasuki 2 tahun kebersamaan kegelisahan merasuk apalagi jika dinyinyirin setiap ketemu. Duuuh...!pengen dicabein itu orang. UPS, maaf.

Biasanya yang nyinyir itu orang dekat atau merasa dekat bukan? Lucu aja kalau hanya say hello terus bertanya tentang kehamilan. Baiklah, sajauh ini saya merasa beruntung telah 4+ menikah tapi tak pernah keluarga dan mertua resek. Mereka selalu menghibur dan menyarankan jangan lelah untuk bersabar. Jangan putus asa. 

Awalnya saya tak ambil pusing dengan pertanyaan orang yang merasa dekat. Menjawab dengan mantap bahwa kami telah melaksanakan berbagai pemeriksaan. Bahkan kami udah Konsul ke dokter khusus. 

Hasil konsultasi dan pemeriksaan menyatakan kami berdua Alhamdulillah dalam kondisi baik. Apalagi yang harus dirisaukan? Belum saatnya mendapatkan amanah bukan?

Bahkan kami juga mencoba alternatif dengan mengkonsumsi kurma muda dan meminta doa khusus dengan orang yang berangkat haji dan umroh.

Puas dengan semua jawaban saya si orang yang merasa dekat ini berhasil membuat saya insecure. Pernyataannya yang bikin gelisah dihati" Lelaki takkan bisa toleran untuk masalah anak, cepat atau lambat dia akan menikah lagi "

Nyesss....! Tak ada perempuan manapun yang tenang jika mendengar ini. Tak banyak perempuan yang siap berbagi cinta.Tak banyak perempuan yang sanggup bertahan jika setiap ketemu direcoki pikiran seperti itu.   
 
Toxic positif dalam relasi

Tak selamanya berpikir positif itu bagus

Puas menyakiti dia pun mulai menyebarkan toxic positifnya. Oh iya, sebelum lanjut yuk pahami 
Istilah 'toxic positivity', yaitu cara selalu berpikir positif untuk menjalani kehidupan. Bukankah positif thinking itu baik? Tak selalu, karena jika menerapkan pola ini kita hanya fokus pada hal positif dan menolak menerima apapun yang memicu hal negatif.

Hidup itu harus berpasangan demi ciptakan keseimbangan. Ada baik buruk, ada positif negatif . Apa dampak berpikir positif terus? Bisa membuat kita seolah lari dari masalah yang sedang dihadapi. Semua yang terjadi didepan mata akan selalu baik-baik saja. Emosi negatif yang timbul dipadamkan secara paksa, sederhananya seperti itu toxic positif.

Bahaya lainnya adalah seseorang tak belajar mengontrol emosi dan tak jarang menyangkal. Mengutip Psychology Today, penyangkalan terhadap emosi hanya akan membuat masalah menjadi lebih besar.  Padahal, ketika menghindari  emosi negatif seseorang akan kehilangan kesempatan untuk belajar memproses dan mengontrol emosi. Keberadaan emosi negatif membuat seseorang lebih waspada terhadap lingkungan sekitar.

Bahaya yang paling besar saat emosi negatif menumpuk adalah memicu stres dan sakit psikis serta fisik alias psikosomatis seperti gangguan kecemasan dan depresi

Kapankah pemikiran positif menjadi racun?


Toxic positif sering dipaksa untuk diterima saat memberikan nasehat kepada orang yang sedang berduka/ bermasalah tanpa ada empati. Maksudnya hati ingin memberi kata-kata penyemangat justru terasa menyengat bagi orang-orang yang tengah bermasalah. Tak selamanya orang yang bercerita bisa bersikap atau siap seperti yang diinginkan oleh orang lain.

Sikap memaksakan menerima segala sesuatu itu akan baik-baik saja atau positif thinking berlebihan  akan membuat orang yang sedang bermasalah atau berduka merasakan buruk ,tidak berguna dan tak bersyukur.

Sejatinya kita merupakan makhluk yang selalu mengeluh saat sesuatu tak sesuai. Kita mahluk sosial yang ingin curhat dan didengarkan, ketika menerapkan toxic positif  dipaksa harus ceria untuk bahagia. Tak ada yang indah dari kepura-puraan.

Tidak semua orang bisa langsung menerima hal buruk sebagai hikmah. Salah nasehat bisa mental maka dari itu kenali orang yang vakan curhat dengan kita. Jika dia rendah diri justru pemberian kata-kata positif akan membawa dampak negatif.

Sumber gambar
1.pixabay 
2.https://gameplay.beon.co.id/ngopi-sama-fira-mengenal-lebih-dalam-soal-toxic-positivity/

You Might Also Like

0 komentar

Hai... silahkan tinggalkan pesan dan tunggu saya approve ya...
terima kasih udah berkunjung

sosial media

LinkedIn

KSB

Total Pageviews

Kelas Growth dari Growthing.id*