Agresivitas dan Emansipasi pada Wanita

April 26, 2013

Judul postingan kali ini rada profokatif ya, tapi percayalah ini bukan frontal hanyalah kegelisahan saya saja.
Baeklah. Mungkin saya yang masih tradisional dan berpikir wanita takkan pernah bisa bebas 💯% seperti pria walaupun udah emansipasi.

Tokoh Emansipasi dari Indonesia yang kelahirannya selalu diperingati setiap tahun bernama ibu kartini. Beliau memperjuangkan kebebasan otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Pemikiran dan kegelisahannya akan nasib perempuan menjadi kelompok yang terpinggirkan, tak mendapatkan apapun dalam hidupnya.

Seolah hidup hanya berkutat antara kasur sumur dan dapur. Siklus ini akan terus berlanjut jika wanita tersebut menjadi ibu dan melahirkan anak perempuan. Sedangkan disisi lain dia dituntut menjadi madrasah pertama bagi anaknya.

Entah apa jadinya kalau tak ada emansipasi dunia ini. Pernyataan kesetaraan gender ini bisa kita rasakan sekarang. Semua hal yang dilakukan lelaki meliputi pekerjaan dan pendidikan kini perempuan pasti bisa mendapatkannya. Hanya ada 2 hal didunia ini yang perempuan lakukan tapi tak bisa dilakukan laki-laki yaitu hamil dan menyusui.

Selain Ra Kartini, tokoh perempuan yang memikirkan tentang kesetaraan terutama pendidikan yaitu Rohana Kudus, berasal dari ranah Minang.

Rohana Kudus mendirikan sekolah yang tak hanya mengajarkan tentang tulis baca tapi juga keterampilan perempuan seperti menajemen keuangan, budi pekerti, pendidikan agama dan bahasa belanda. Selain itu dia juga berhasil memasarkan hasil kerajinan rumah tangga.

Emansipasi yang diinginkan oleh Rohana kudus adalah wanita tak akan mungkin  sama haknya dengan laki-laki tapi dia (perempuan) punya kodrat. Dan kodrat ini akan berfungsi jika punya pengetahuan dan keterampilan. Dan itu didapatkan dari sekolah.

Sayangnya, pada abad ini kesetaraan yang udah ada nggak sebagaimana mestinya terutama dalam bersikap dan berprilaku asmara.(halaaah kata2 ku terlalu dalam)

Wanita diibaratkan seperti merpati begitu misterius dan mempesona. Dia akan tenang  dan takkan mendahului mengatakan perasaannya, apalagi sampai nembak.

Jadi ingat kata nenek saya, pada masanya perempuan jika ditanya apalagi soal setuju tentang sebuah hubungan dia akan mengangguk atau diam . Hal ini memberikan pengaruh ke saya, jadi rada ngeri liat yang agesif alias lincah kepada lawan jenis. *Ini menurut saya,sengaja diulangi lagi.

Jangan pernah kebablasan tentang persamaan, sampai kehilangan esensinya.

Oh iya..Pernah saya tanyakan sama si Uda pendapatnya dan menurutnya ngak banget melihat perempuan agresif.






You Might Also Like

0 komentar

yang diikuti

Blogger Perempuan
Blogger Perempuan
Indonesia hijab blogger

Like us on Facebook

Flickr Images

Daisypath Anniversary tickers