Sunday, 14 May 2017

Cerita WA Yang Selalu Sama


Era blackbery tergeser sejak lahirnya android, pelan tapi pasti pengguna BBM makin berkurang. Berbagai media sosial lahir untuk membuat si makhluk sosial mudah berkomunikasi. Berkomunikasi menjadi sebuah kebutuhan bukan??
Whatsapp, line, kakao talk, we chat dsbnya berlomba memikat hati untuk diunduh dan dijadikan must have  .Berbagai media sosial ini telah memberi pangaruh terhadap kehidupan bahkan menjadi candu. Ada yang hilang jika tidak melihat sejenak media sosial. Bahkan terkena penyakit femo dan akibatnya produktivitas berkurang, beberapa jam terbuang  

Cerita wa yang selalu sama

Dari kesemua media sosial itu WA lebih diminati sebab fiturnya selalu berkembang. Awalnya hanya bisa kirim text sebagai pengganti SMS dan pesan suara kini telah bisa video call.  Kelebihan lainnya adalah pure medsos yaitu tidak ada iklan yang menggangu. Unistall aplikasi medsos tidak akan bermasalah tapi jika WA maka saya akan merasa ada yang hilang.

Asalkan sudah unduh aplikasi dan teman lain juga ada maka komunikasi dengan WA bisa dinikmati. Kemudahan inilah yang membuat banyak orang mengunduhnya sehingga melahirkan berbagai grup. Grup dibuat dengan kesamaan tertentu seperti pekerjaan, alumni, hobi, minat pada hal yang sama.


Bicara grup WA, saya pertama kali join tahun 2014 dengan komunitas ODOJ (one day one juz) . ODOJ ini dibentuk dengan tujuan untuk mendisiplinkan dan memupuk semangat membaca alquran setiap hari . Harapanya bisa khatam setiap bulan. 

Selama ini untuk khatam hanya bisa bulan ramadhan, sejak ada grup ini saya bisa baca  1 juz perhari dan khatam sebulan. Kalau menstruasi maka diganti dengan mendengarkan ayat alquran. Pembiasaan yang baik bahkan ada yang hilang jika tidak baca alquran sehari. 

Grup ini mengajarkan tanggung jawab sebab setiap anggota harus piket harian dengan tugas untuk mengabsen, memberi batas waktu untuk menyelesaikan bacaan pada anggota lain, melaporkan perkembangan bacaan , melelang juz jika anggota berhalangan dan memotivasi teman yang belum menyelesaikan 

Senang bisa berada diantara pecinta alquran, bahkan kami membuat grup baru KUTUP(komunitas tahajud berjamaah) . Seperti grup odoj , diKUTUP ini juga ada jadwal piket untuk membangunkan anggotanya setiap hari. Teknologi memberikan nilai positif yaitu mendsiplinkan dalam beribadah dan menjalin silaturahmi. 

Saya punya kenalan banyak walapun belum pernah ketemu, bahkan ada teman dalam grup Odoj itu yang berasal dari hongkong. Saya menikmati semua itu  dan merasa ilmu agama bertambah sebab banyak yang share. Di sini saya melihat orang dengan berbagai gayanya ada yang heboh sendiri dengan suka curhat, pendiam, DLDL(dia lagi-dia lagi). Saya berada dalam jenis penyimak pembicaraan atau lebih tepatnya akan berkomentar jika perlu.

Saya left grup karena tidak nyaman dengan chat yang tak jelas malahan oott (out of the topic).  Percakapan dengan maksud mempererat silaturahmi malahan berubah jadi lapak. Hal lainnya yang membuat saya  mantap untuk meninggalkannya adalah sikap anggota yang hiperaktiv di grup.Tidak masalah ada yang aktiv malahan penting untuk menghidupkan grup, tapi sangat tidak baik jika ada yang tidak sopan. 

Kesibukan bekerja membuat saya harus pintar menyambi untuk merekap laporan anggota . Di KUTUP tidak masalah karena laporan akan mudah direkap sebab tenggat waktu melaksanakannya hanya 2 jam saja. Membangunkan Anggota untuk tahajud pukul 03.00 dan rekap pukul  05.00. Berbeda dengan ODOJ rentang waktu seharian, jadi akan ada bebarapa kali memberi rekapan sementara.

Waktu untuk laporan yaitu pukul 13.00, 16.00, 19.00 dan pukul 21.00. Jadwal kerja saya dari pukul 14.00-19.00 dan ketika harus piket memberitahu perkembangan bacaan anggota saya berusaha mencuri waktu  kerja. Melaporkan dengan konsekuensi terlambat dari jadwal yang ada, biasanya update laporan itu terlambat 10 menit. Maklum saja saya harus  scroll keatas membaca setiap percakapan.  Si hiperaktiv akan mengambil tugas saya tanpa permisi, mungkin bagi sebagian orang itu biasa tapi tidak bagi saya.  Ada perasaan tidak bertanggung jawab yang mengalir dalam diri saat ada yang "merampok "tugas itu . #Sedikit melangkolis

Protes dengan sikap orang hiperativ sudah saya lakukan secara halus tapi sayang tidak paham dan dengan berat hati harus mengakhiri semua itu. Kekanak-kanakan bagi sebagian orang tapi rasa tidak nyaman perlu diperhatikan saat bersama grup bukan? 

Kita butuh teman untuk bertukar pikiran dan membuat perubahan hidup lebih baik dan untuk itu perlu menerapkan etika. Etika yang perlu diterapkan untuk membuat Grup Wa tidak selalu sama 
  1. Sadari bahwa keberagaman saat berada dalam grup itu penting.  Keberagamaan itu mengajarkan kita akan tenggang rasa dan saling menghormati, kita tidak bisa memaksa sesorang pendiam untuk aktif . Biarkan saja dia sementara waktu menjadi silent reader, tidak semua orang luwes dalam memulai pertemanan dan aktiv di grup. 
  2. Gunakan grup sebagaimana mestinya dengan tidak chat pribadi di grup dan tidak share hoax atau buka lapak
  3. Join dalam grup artinya mengikuti semua ketentuan yang ada dan pahami setiap orang ada kegiatan, jadi hendaknya memaklumi dan bersikap fleksibel dengan semua itu 
  4. JIka ingin left maka lakukan dengan baik. Jangan lupakan ungkapan ini Pergi tampak muka pulang tampak punggung. Berpamitan dengan semua anggota dan saling memafkan.
Cerita Wa yang selalu Sama dan ketika saya masuk lagi di grup akan selalu ada orang yang hiperaktif dan silent reader. Perbedaanya sekarang saya merasa nyaman sebab mereka memahami  kesibukan anggotanya. 

Tulisan ini diikutsertakan dakam giveaway pertama aida serba serbi grup WA
#serbaserbigrupWA #GapertamaAida

No comments :

Post a Comment