Monday, 20 April 2015

Lebih Berani untuk Hidup Layak

Saya selalu yakin setiap usaha berbanding lurus dengan hasil termasuk dalam urusan mencari pekerjaan. Entah sudah berapa rupiah melayang yang pasti membocorkan simpanan saya dan juga rasa lelah yang merontokkan sendi karena perjalanan yang jauh. Setiap terima gaji saya membuat simpanan khusus untuk dana tak terduga. Dana ini biasanya digunakan jika ada yang sakit atau kondangan dan sisanya barulah ditabungkan. Sistem ini sengaja diterapkan dengan tujuan bisa menghemat dan mengontrol arus lalu lintas uang sehingga lebih jelas.  Semua itu kacau sejak saya sibuk melamar kerja, melamar kerja kesana kemari dengan naik angkot dan turun angkot. Boros jadinya dengan memakai jasa angkot,  kalau pakai motor tidak akan segitunya dan sayangnya motor tak punya. Itu baru ongkos angkot  belum lagi biaya fotokopi, print dan amplod benar-benar membuat bangkrut.
Menyusuri tempat dekat bukanlah masalah tapi bagaimana kalau jauh? Saya selalu berusaha menangkap peluang yang ada termasuk untuk lowongan pekerjaan. Saya menanamkan benih semangat untuk menyusuri lowongan kerja yang jauh dengan mensugesti pikiran  rasa lelah dan jauhnya jarak bukan sebuah hambatan. Teman-teman menyebut saya si nyaring telinga karena selalu update info lamaran kerja. Saya yakin jika memiliki uang lebih maka hidup akan layak dan untuk bisa mendapatkannya butuh pekerjaan. Mendapatkan pekerjaan yang halal terutama untuk zaman sekarang sangat sulitnya sehingga perlu sedikit #beranilebih . Berani yang dimaksud itu mau mendatangi  lokasi lowongan.

Penipuan dan lowongan harus selalu diwaspadai. Banyak berita yang beredar tentang penipuan pekerjaan , kadangkala membuat banyak teman gentar ke tempat jauh. Sebenarnya hal ini  mengusik tapi demi hidup layak saya harus #beranilebih dan menepisnya. Modal utama saya dengan bismillah kemudian mulai bertualang kelokasi dengan naik angkot. Tak selamanya perjalanan mulus dengan mudahnya menemukan lokasi. Pernah saya pergi ke suatu tempat yang jauh dan jujur itu kali pertamanya saya ke sana. Setahu saya tak ada yang mau pergi sendirian.  Beberapa teman geleng-geleng kepala saat mendengarnya.

Bertualang di kota asalmu bukanlah masalah karena saya yakin pasti tau sudut kotanya, bagaimana jika perantau yang buta daerah tapi modal nekad? Saya telah melakukannya jika ditanya bagaimana rasanya? Sangat deg-degan juga. Dirantau  saya sudah ada pekerjaan tapi tidak pas gajinya. Saya bertahan bekerja sembari memasukkan lamaran jika lowongan dibuka. Selain modal bismilah kenekatan lebih tepatnya keberanian saya ini dibantu dengan GPS. Menghindari tersesat saya pakai gps dengan chek rute lokasi dan cerewet bertanya. 

Tulisan ini diikutkan dalam kontes menulia yang bertajuk  #beranilebih oleh Light of womeb indonesia
Fb:unni riska
Twitter; sheieka

No comments :

Post a Comment