Monday, 29 September 2014

Sampai Kapanpun Dia Takkan Pernah Tergantikan

Badan yang kedinginan tadi telah memperlihatkan rasa tak karuan antara dingin dan panas. Aku merasa orang di bus ini ada banyak dan aku merasa mendengar suara-suara. Entah kenapa bus ini jalanya beringsut pasti over kapasitasnya, kalau tidak hujan pasti aku akan memilih kendaraan lain biarlah nyambung -nyambung asalkan sampai dirumah dengan selamat. Keringat makin banyak membasahi keningku dan segala macam aroma lewat di hidungku dari yang asam sampai menyengat, membuatku mual dan kepala makin berdenyut.Sebentar lagi aku akan dirawat di rumah sakit nih. 

 Hari ini hujan deras membasahi kotaku dari pagi sampai sore tidak memunjukkan tanda akan berhenti. Doa yang makbul adalah diwaktu hujan dan saatnya berdoa semoga hasil test tadi bagus dan aku bisa diterima , amin. Kalau aku lulus betapa bahagianya orangtuaku, hanya itu yang ada dipikirannku. Walaupun kerja ini tak sesuai keinginanku tak apalah asalkan mereka bisa tersenyum itu sudah lebih dari cukup.


 Dua tahun sudah aku tamat kuliah, setiap ada lowongan terbuka selalu aku apply. 1 tahun pertama aku masih bisa memilih calon pekerjaan yang sesuai dengan diriku. Melihat teman yang banyak telah menghasilkan uang dan memilih pekerjaan tak sesuai pendidikan membuatku terpaksa mengikuti. Apalagi saat mami sering cerita anak temannya sudah bisa transfer ke rekening, bukannya takut kalah saingan hanya saja merasa sedikit bersalah membuang kesempatan yang ada hanya untuk menurutkan egoku saja.

Mami melarangku untuk ikut tes hari ini karena kondisi yang masih belum fit, Tipoid harus bedrest untuk mempercepat penyembuhan. Aku tak mau melewatkan peluang lagi waluapun ini bukan minatku, siapa tahu rejeki dan aku lulus. Tubuh yang ringkih ini beberapa kali harus terdorong dengan yang lain, tak ada bangku kosong membuatku harus berdiri bergelantungan dan berhimpitan dengan yang lain. Semoga saja tidak ada kejadian buruk karena perempuan dan lelaki berdekatan berdirinya. Aduuh, busnya rem mendadak membuat kami yang berdiri makin teraniaya saja, kepalaku makin berdenyut dan suara-suara makin banyak terdengar serta pandangan makin kabur. Untunglah ongkos kuselipkan dikantong celanaku sehingga tak perlu merogoh tas ku.

 Kiri,,,,, pak! teriakku dengan tertatih kuseret langkah menuruni bis , saat akan naik ojek ke rumah resleting tasku terbuka daaaaaannnn, ooh tidak ternyata aku kecopetan di bis tadi. Dompetku telah raib semuanya hilang dari KTP, SIM dan ATM, yang membuatku kesal bukan uangnya tapi kartu yang ada didalamnya dan dompetnya itu. Dompetnya begitu berharga karena diberikan oleh sesorang yang ku sayang dan takkan bisa kutemui lagi di dunia ini jika rasa rindu mengoyak jantungku. Hilang sudahh, aku sial banget hari ini dan air mataku menganak sungai. Harusnya tadi tas dikedepankan, harusnya aku lebih hati-hati, sesal demi sesal ada di kepalaku dan denyutannya makin kuat . Mbak mau kemana diantar?, kenapa tukang ojek ada dua, sebelum sempat ku jawab semua menjadi gelap

Tulisan ini diikutkan dalam giveaway tentang kehilangan

No comments :

Post a Comment