Thursday, 25 September 2014

Masuk Sekolah Kampung Bukan berarti Kampungan


Oooo, di sekolah kampungan itu, pasti  siswanya kampungan juga. Hadeeeh cinta , Mengapa kamu mau menceburkan diri ketempat kumpulan anak -anak kampungan itu?  Hanya kamu angkatan kita yang mempunyai pilihan aneh, kalau mau memilih sekolah agama kan bisa ditempat lain lebih elit lagi. Rasanya aura norak udah ada di kamu akibat berteman sama mereka jadi ketularan kampung ! demikianlah celotehan teman-teman Sekolah dasar(SD) saat menilai sekolah pilihanku. 


Setelah lulus SD saya memutuskan memilih sekolah yang porsi banyak porsi pelajaran agamanya tapi tidak nginap alias bisa pulang pergi tiap hari. saya memutuskan masuk ke MTSN  talawi. Sebenarnya di kota ada juga MTSN lain yang jadi favorit bernama MTSN koto nanduo. Lokasinya bagus di pusat kota transportasi lancar, bangunannya juga bagus sangat jauh berbeda dengan sekolah pilihanku. Mau sekolah harus bersabar menunggu angkot di persimpangan, saat angkot datang harus cepat karena bersaing dengan teman dan penumpang lain yang baru balik dari pasar. Aroma parfum bercampur keringat dan amisnya ikan. Rontok bulu hidung rasanya. Kalau kuat silahkan berjalan kaki kurang lebih 1,5 km dari simpang ke sekolah. Biasanya saya berangkat pagi-pagi supaya tidak telat sampai di sekolah kira-kira pukul 06.30 kemudian menunggu teman di simpang dan kami berkonvoi berjalan kaki. Awalnya capek tapi keterbiasaan membuatnya jadi biasa saja malah sehat karena jalan kaki jadi olahraga rutin. Menurut mami sejak jalan kaki betisku jadi besar  makan banyak dan efeknya ceking ini berkurang beberapa kilo. Alternatif lain untuk ke sekolah adalah dengan menggunakan sepeda seperti biasa kami selalu berkonvoi. 

Saya sudah mencoba berbagai cara kesekolah dan yang paling seru adalah bersepeda. Menguji keberanian karena baru pertama kali menggunakan sepeda di jalan raya, di pagi hari saat semua sibuk dan laju kendaraan berkejaran dengan waktu .  Saya berusaha mengikuti ritme di jalan raya yang ramai dengan berusah tetap tenang mengayuh sepeda. Pertama kali bersepeda terasa lelah keringat bercucuran dan hal pertama kali yang dilakukan sesampai di sekolah adalah berkipas. Capek dan seru.

Sekuat apapun membaur dengan mereka tetap saja gelar ANAK PAPi tersemat karena sepulang sekolah sebelum menggunakan sepeda beberapa kali di jemput papi dengan motor, pada masa Saya MTSN  beberapa tahun yang lalu motor masih dianggap lux. Alasan lainnya MTSN talawi ini jadi pelabuhan hati adalah karena jaraknya lumayan dekat bisa ditempuh dengan satu kali angkot. MTSN lain (nanduoa) harus nyambung angkot. Saya tidak mau menghabiskan hari berlama-lama di jalan , saat sampai dirumah capek dan tidak bisa membantu orangtua.  Hal positif lain yang  dirasakan selama di sekolah ini adalah berusaha membaur dengan semua teman. Semasa SD teman saya banyak dari kalangan orang menegah keatas sekarang bermaca- macam ekonomi mereka. Rata-rata banyak yang ekonomi ke bawah seperti kata teman SD di sini banyak anak kampung, Banyak mereka datang dari pelosok yang ingin sekolah agama di tapi biaya yang murah. Sekolah ini berstatus sekolah negeri dan terletak di perkampungan yang menjadi jalan lingkar dengan status sekolah negeri. 

Papi pernah berkata suatu saat penduduk disini rumahnya akan bagus- bagus jika jalan telah beraspal karena saat itu jalan masih memakai pasir dan kerekel saja, Tapi mereka akan tetap dengan pola kehidupan yang lama. Penduduk di sini mata pencariannya bertani sehingga sepanjang jalan yang terlihat adalah kebun-kebun yang ditanami dengan berbagai macam sayuran. Sekolah padang rumput, demikianlah teman SD mengolok. Benar sekolah ini memiliki padang rumput yang luas. Mau mengadakan acara kemping tak perlu ragu karena padang rumputnya luas atau mau bertanding olahraga bisa juga. Dibelakang sekolah  ada sungai yang mengalir dan disamping sekolah ada ada tanaman jeruk nipis, jagung, kakao.  Saat belajar biologi kami bisa langsung ke labor alamnya di kebun sekolah ini, ilmu yang diajarkan seperti cara menyetek  tanaman bisa langsung diterapkan. Atau mau membedakan tumbuhan monokotil dan dikotil tinggal cabut tanaman di kebun dan amati perbedaannya langsung , buku jadi panduan kalau ragu. 

Sesekali waktu kami refresing bersama ke bendungan dekat sekolah melihat air bendungan, lokasi ikan larangan, bahkan kami pernah out dadakan . Waktu itu melihat teman sakit karena kendaraan dalam hal ini sepeda tak cukup dan angkot  jarang lewat memutuskan jalan kaki melintasi pematang sawah, karena ingin mencari  jalan motong biar cepat sampai malah jadi out bond.  Saya  suka sekolah ini walaupun dipandang sebelah mata oleh orang karena di sini aku belajar banyak hal tidak hanya pelajaran sekolah saja tapi juga cara bergaul terutama dengan yang kurang mampu, belajar kesederhanaan langsung mempraktekkanya. Kesimpulan yang bisa dipetik adalah semua pelajaran yang ada disekolah itu sama yang membedakannya adalah pelajaran hidup yang dapat dipetik tidak akan sama.

Inilah sekolah impian dan sampai sekarang saya selalu bersyukur bisa jadi bagian dari sekolah ini , walaupun berteman dengan anak kampung yang tidak kaya seperti teman lama.Sayang sekali foto sekolah tidak ada mungkin karena dianggapa masih sekolah kampung sehingga tak ada yang berniat menfotonya.



No comments :

Post a Comment