Tuesday, 30 September 2014

Pleas, Lupakan Dia Hatiku


Hampir 2 tahun berlalu tapi saya masih menunggunya. Berharap lelaki itu akan muncul di tempat kami biasa bertemu, selalu kusempatkan mampir kesana di waktu yang sama. Sore nan cerah dengan hembusan angin sepoi , di waktu yang sama kita selalu bertemu. Masih bisa tercium aroma maskulin di tubuh lelaki itu.

Saya merasa paling beruntung bisa bertemu lelaki idaman, mungkin idaman semua wanita. Lelaki yang secara materi mapan,  fisik rupawan, bahkan rajin menjalankan perintah agama. Saya hanya bisa melihat senyumannya saja tanpa berani menyapa duluan, sedangkan lelaki itu terlalu asyik berbincang dengan temannya.  

Saya hanya bisa menyimak setiap percakapan mereka, membahas masalah umat dan hal yang berkaitan dengan agama. Lelaki yang beda untuk ukuran zaman sekarang,  yang  yang mau berbicara agama. Saya selalu menguping pembicaraan mereka dari belakang menikmati suaranya yang terdengar sayup-sayup merdu, sambil badan ini panas dingin menahan grogi karena sesekali lelaki itu melihat kebelakang mencari tempat lapang.

Kami selalu bertemu dan berdesakan di halte menunggu transmetro setiap sore. Setiap waktu saya punya harapan besar bisa berkenalan dengannya. Berbulan-bulan menunggu masa itu datang. Hingga suatu hari tiba-tiba saja Lelaki itu menyapa saya. Serasa mimpi, dengan semangat saya ucubit tangan ini dan auuu sakit teriak saya. Tanpa sadar membuatnya kaget dan keluarlah kebodohan saya di depannya.  

Kita selalu bertemu setiap sore kan? dan kamu selalu berdiri di belakang akukan? oohh tuhan suaranya begitu merdu. Andai bisa mendengar setiap hari suara ini.Pasti hidup ini lebih bahagia.
Haloo... kamu baik-baik saja kan? kulihat tangannya bergerak-gerak diwajah membuat saya tersadar dari lamunan.
iyaaaa.. maaaaf , namaku anita .jawab saya terbata-bata. Saat didekatnya bisa kurasakan dunia berputar dengan lambat dan kamilah porosnya.

Waktu bergulir dengan cepat sampai tidak disadari benih cinta bersarang di hatinya. Keakraban kami telah mendapat restu dari orangtuanya dan gerbang bahagia akan terbuka sebentar lagi. Tak sabar rasanya menantikan hari bahagia bisa bersanding dengan lelaki idaman hati. Saya merasa menjadi wanita yang paling beruntung dijagat ini bisa bertemu dengan lelaki yang alim, kaya dan rupawan. 

Banyak yang pesimis kami bisa bersatu karena perbedaan status sosial , menurut mereka diluar sana saya takkan bisa mengimbangi lelaki itu.Saya takkan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya karena hanya lulusan SMA. Itulah cinta yang buta dan tuli , tak peduli apakata orang  kami tetap maju mewujudkan mimpi. Saya yakin selama  bersamanya dunia yang selalu menganggap status itu nomor satu bisa  diatasi dengan baik.

Seminggu lagi hari bahagia kami akan datang, ada semacam larangan yang tidak tertulis menjelang akan menikah tak  usah keluar rumah lagi. Rencanya 3 hari setelah resepsi di rumahnya kan dilanjutkan bersanding ditempat saya, Walaupun tidak kaya orangtua ingin mengadakan resepsi kecil-kecilan . Di rumah saya rencananya akan ada juga di pasang pelaminan dan  persiapan  hampir 90% telah selesai . Adat di tempat saya adalah maiisi sasuduk(mengisi kamar terdiri atas tempat tidur, lemari dan bofet) yang dilakukan oleh lelaki. 

Sekali lagi saya merasa tersanjung saat dia mengajak ke toko perabot untuk memilih mana yang disukai.  Mujur sepanjang hari malang sekejap mata, Setelah menemukan perabot pilihan yang akan di gunakan di kamar pengantin kami beristirahat untuk melepas lelah di sebuah restoran. Tiba-tiba saja bumi bergoncang kami panik dan berusaha berlari keluar mencari tempat yang aman . Braaaak..... sebuah pelafon menimpa kaki dan saya tak bisa melangkah , melihat hal itu Dia kembali lagi kedalam untuk menolong, saat saya bisa lepas dan kami berusaha keluar sebuah tembok menimpanya. Kejadian itu beberapa detik saja tapi telah merenggut nyawanya menghancurkan mimpi kami.    Peribahasa yang cocok untuk kejadian ini adalah Cindua takacau hari hujan  artinya Rencana yang telah disusun tak dapat dijalankan karena terhambat oleh sesuatu dan lain hal yang di luar perhitungan semula). Maut begitu dekat ternyata dan sampai detik ini aku selalu menyesali diri ini dan berharap mimpi . 


nita ..... ayo pulang sudah soreee, besok kamu datang lagi ke sini kan? Sebelum pergi minum obat dulu yaaa. ibu sudah tahu kemana mencar jika saya  menghilang dari rumah . yaaah Sejak saat itu  saya tak bisa berkata-kata lagi dan memilih diam sesekali menangis, saya depresi sejak kepergiannya lelaki tercinta .

 
 




No comments :

Post a Comment