Monday, 4 August 2014

Jangan Terus Menyalahkan

Serial hani
Lebaran sudah berlalu beberapa hati rutinitas seperti biasanya berjalan lagi. Keberadaan jiwa suci akan tercemari lagi tanpa disadari.Apakah seperti kata nabi menguntal benang lalu membuka lagi artinya pekerjaan yang sia-sia.Susah payah jadi baik sebulan setelah itu kembali lagi seperti semula.

Aisyah telah berusaha menjadi lebih baik dengan bersabar menerima setiap ketetapan allah. Tetap saja keusilan mempengaruhi semburat rasa sabar itu. Aahh temanku kuatkan hatimu.
Apakah aku terlalu selektif hani? atau harus mati dulu untuk menemukan pria idamanku?
Pertanyaan aisyah membuatku terdiam. 

Aku bosan dengan keadaan ini hani bukan aku gugat tuhan tapi kejengahan ini menyakitkan. Apa salah kalau menikah dengan lelaki pilihanku? Aku hanya ingin menikah dengan lelaki yang ku cinta menghabiskan sisa hidup ini bersamanya melihat anak-anak kami bertumbuh. Kriteriaku sederhana kok mempunyai pekerjaan tetap bisalah disisihkan untuk tabungan tak ada terbersit di hatiku cari pria kaya. Lelaki itu bisa memahami serta menerima penyakitku.Itu kriteriaku hani dan aku belum menemukannya salahkah aku bertahan dengan kesendirianku ini? 

Rasa iba menyelusup di hatiku melihat aisyah , saat yang lain telah berubah peran ia masih tetap seperti itu. Mulut di luaran sana begitu pedas menyalahkan dirinya yang belum juga menikah,  kriteria pendamping yang terlalu tinggi penyebabnya.  Hidup di kampung  dengan masyratakat yang masih sosial belum tercemar individualisme membuat peduli bermakna lain, bahkan ada tetangga yang usil kerumahnya hanya untuk membahas itu.

Sebagai teman aku berusaha menyabarkannya bahkan aku telah kenalkan dengan beberapa teman lelaki tapi belum ada yang klik. Menurutku setiap orang perlu kriteria pendamping, asalkan realistis dengan keadaan dirinya.  Kriteria akan membuat seseorang semangat dalam pencariannya

No comments :

Post a Comment