Stop Diskriminasikan Penderita TB

July 13, 2014

Akhirnya lomba blog TB selesai juga, alhamdulillah saya bisa mengikuti semuanya walaupun belum coba merasakan menang hingga sampai saat ini. Ini lanjutan serial TB yang ke 8

Bisik-bisik terdengar dari arah belakang di ruang tunggu poli umum puskesmas di kampung saya. Awalnya saya tidak menyimak ucapan mereka malas , males banget palingan obrolan yang tidak penting mengisi waktu alasannya. Kemanapun pergi aktifitas membicarakan orang itu paling seru, tak peduli si korban pembicaraan tersinggung.

Hari ini yang jadi korbannya adalah pak itam tetangga kami, ketika bapak itu memasuki ruang tunggu beberapa orang mulai gelisah,bahkan ada yang pindah duduk dari ruangan tunggu. Pssst, pada tau kagak ibu-ibu pak itam menderita penyakit Tuberkulosis? ibu A membuka pembicaraan. Apa itu bu? ibu B kepo juga . Tuberkulosis itu sama dengan TBC, itu lohh buk penyakit yang menular bisa menyebabkan kematian.  berbahaya buk. Padahal istrinya guru herannya kok bisa kena juga.Mereka  jorok kali yaa? Panjang lebar ibu A menjelaskan. Ibu B ingin menambahkan , Pantas pak itam batuknya lama, saya kira batuk karena merokok. Kasihan pak itam, dia mende...... Ehemmmm,deheman pak itam mengangetkan kami. Pasien selanjutnya....


Lamunan terbang ke masa beberapa bulan yang lalu ketika mau cabut gigi saya melihat pak itam sedang di apotik mengambil obat yang berwarna merah dan kuning. Obat ini sepertinya obat paket tampilannya berbeda dari obat generik yang pernah saya lihat. Sebuah keyakinan menyeruak   bahwa itu Obat TB karena pernah melihatnya di internet. Obat TB kategori 1 meliputi Ethambutol, Pirazinamid, Izoniasid dan Ripampizin).  Sebenarnya saya penasaran siapa yang minum obat itu tapi tidak berani menanyakan. Setahu saya orang Penderita TB sensitif, mereka mudah tersinggung dan curiga dikarenakan perlakuan kita yang sehat mengucilkan mereka. Artinya seseorang menderita TB mendapatkan 2 kali kemalangan secara fisik yaitu menderita penyakit dan secara psikologis yaitu Stigma dan diskriminasi.  TB merupakan penyakit menular yang mampu menyerang  organ tubuh lain selain Paru-paru. Penderitanya akan meninggal jika tidak diobati atau dapat menurunkan kualitas hidup.Saat seorang terkena penyakit ini maka masyarakat sekitar akan menjauhinya.

TB dan stigma negatif tak bisa dipisahkan keduanya saling berkaitan. Stigma diartikan sebagai label untuk orang yang tidak dikehendaki. Sebenarnya memberi stigma untuk sesorang telah ada pada jaman yunani, yaitu untuk menyebut bekas luka pada kulit akibat ditempel besi panas yang dilakukan pada budak, penjahat atau orang-orang yang dianggap kriminal lainnya, sehingga mudah diidentifikasi sebagai orang yang hina atau harus dijauhi. Stigma yang berkaitan dengan TB seperti  :
  1. penyakit tak bisa sembuh,  TB pasti sembuh dengan cara minum obat rutin minimal 6 bulan dan selalu jaga kesehatan dengan menerapkan pola hidup sehat. Banyak Pasien TB yang telah Sembuh bahkan bisa berperan lagi dimasyarakat
  1. penyakit keturunan, Penyakit ini tidak akan menjadi keturunan hanya saja banyak yang salah persepsi. Saat anak sakit kemungkinan ibu tertular makin besar karena penyebarannya melalui udara
  1. penyakit kutukan  /penyakit guna-guna, Penderita TB  mempunyai gejala batuk yang lama sembuh, badan makin kurus dan mudah lelah karena nafsu makan berkurang. Yang lebih parah ada yang sampai batuk berdarah pada kondisi-kondisi seperti ini banyak yang mengira terkena penyakit kutukan/guna-gunna. Padahal TB disebabkan oleh bakteri yaitu micobakterium tuberkolisis

“Saat seseorang telah menderita TB maka muncul stigma setelah itu terjadi diskriminasi. Antara stigma dan diskriminasi semuanya akan mempengaruhi penderita TB. Stigma dan diskriminasi itu sejalan. Kalau disimpulkan setelah sakit maka masyarakat memberikan stigma(lebel) yang ekstremnya ada tindakan  menjauhi dan memberikan perlakuan pada orang atau kelompok tertentu yang dianggap mempunyai sesuatu yang tidak baik(diskriminasi) . Stigma di masyarakat umum telah memunculkan diskriminasi pada penderita TB dan keluarganya seperti pengusiran, pengasingan, tidak dilayani disuatu pelayanan social dan atau bahkan kesehatan, pemecatan dari pekerjaaan dan lain sebagainya.Stigma dan diskriminasi juga menghambat upaya pencegahan dengan membuat orang takut untuk mengetahui apakah mereka terinfeksi atau tidak.

Stigma tidak hanya dikaitkan dengan orang dengan Penyakit TB tapi juga melekat pada pasien penyakit lainnya, misalnya; kusta dan HIV dan AIDS.Artinya stigma akan sangat melekat kuat pada penyakit infeksi yang lama masa penyembuhannya. Terjadinya stigma dan diskrimasi dikarenakan adanya keyakinan atau pengetahuan  yang kurang. Walaupun telah memiliki pendidikan tinggi yang namanya kurang pengetahuan akan membuat sesorang memiliki stigma negatif dan akhirnya menjadi diskriminasi. Adapun langkah yang bisa dilakukan untuk menghapus stigma dan diskriminasi adalah
  1. pada penderita TB 
  •  Menyakinkan mereka pasti bisa sembuh dengan syarat rutin minum obat minimal 6 bulan dan selalu menerapkan pola hidup sehat
  • Menganjurkan kepada keluarga yang menderita TB untuk memeriksakan kesehatan ke puskesmas atau tempat pelayanan kesehatan lainnya
  •  Menjelaskan Obat TB gratis sehingga tidak halangan biaya untuk berobat sampai tuntas
     2. Pada masyarakat
  •   Menyebarkan informasi tentang TB meliputi tanda penyakit, cara pengobatan
  •   menjaga kebersihan lingkungan serta mengajarkan prtilaku beresiko yang membuat penyakit ini subur
  • Tetap melibatkan penderita TB dalam kegiatan kemasyarakan dengan catatan mereka harus menjaga kesehatan
  •  Memberikan pelayanan merata pada pasien TB diseluruh pelosok tanah air untuk setiap kecamatan
Pada saat ini Diskriminasi terhadap pasien TB saat ini sudah sangat berkurang dibanding tahun 1970 an,. Pada zaman dahulu mereka dikucilkan dalam suatu tempat bernama sanatorium seolah mereka tidak punya harapan lagi untuk sembuh.

Mari sembuhkan mereka secara bersama-sama

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Daisypath Anniversary tickers