Friday, 27 June 2014

Puasa Ramadhan yang takkan pernah sama

Hari ini matahari tak mau berdamai, dengan angkuhnya memancarkan sinar. Jalanan kian ramai saja padahal ini puaso tuo bagi sebagian orang termasuk bagiku. Haus dan lapar mulai menyerang aroma makanan di pasar pabukoan tak ketinggalan menjadi syetan merayu untuk di ajak pulang.

Ini puasa pertama di bulan ramadhan tahun ini kondisi tak fit membuat terasa berat,aiiihhh pandangan berkunang-kunang. Bisa dibatalkan puasa ini takkan ada yang mendelik heran kan baru sebagian yang puasa. Tapi saia mempertahankannya
Sebuah harapan di sematkan untuk ramadhan tahun ini.
Semoga bisa menemukan pencerahan dan tidak galau lagiiiii.

Puasa tahun ini terasa perbedaan mencolok dibandingkan tahun dulu yang banyak romansa dari mengelilingi kota tercinta mencari sarapan, bubar yang nyaris setiap malam disambung tarawih, bully dipuasa tuo dan harapan besar di hari nan fitri.Tak apalah kenangan di buka kembali untuk dijadikan perenungan. Adakalanya masa lalu perlu diintip sedikit, masa lalu harus jadi pelajaran untuk sekarang. Sesakit appun itu ada kalanya harus lihat kebelakang dan jadikan landasan melangkah ke depan.

Tahun lalu seperti halnya tahun ini bergalau dalam menentukan awal puasa. Akhirnya saia memilih tidak sama dengan pemerintah dan puasa lebih awal. Sehari sebelum puasa kita makan siang terakhir bersama. Kan mau puasa jadi makan siangnya tidak ada lagi he...hee

Setelah makan kita ke RSUD memeriksa kondisi kakimu, 3hari yang lalu kakimu tertimpa speaker dan kukumu nyaris copot serta darah tak berhenti mengalir. Kemudian dokter menyarankan pencabutan kuku esok harinya. Setelah mendaftar menunggu antrian kita mengelilingi kota mencari sarapan di pagi itu sayangnya tidak ada. Dan kamu kelaparan jadinya sedangkan saia tak masalah karna berpuasa.
Setelah kukumu dicabut dan diperban jempol kaki maka tak bisa memakai sepatu, saia berinisistif membeli sendal jepit. 4 kali bolakbalik ke toko yang sama memukar sendal sesuai keinginanmu, yang ini kebesaran yang ini model cewek yang ini warnanya norak. Saia merasa di bully saat puasa pertama bolak balik untuk sebuah sandal jepit dan belum lagi menghadapi pemilik warung yang merengut. Sempurna ujian kesabaran di puasa pertama.

Hampir setiap hari kita bubar di tempat yang sama sampai pemilik warung hafal dengan kita bahkan telah menyediakan tempat.Setelah itu kita lanjutkan dengan sholat tarawih .  Kita saling mengingatkan untuk mencapai puasa dengan baik indahnya kebersamaan. Harapan untuk bisa menggenapkan dien kita setelah lebaran kian membuncah. Setiap hari kita menghitung hari dan merencanakan hal yang akan kita lakukan setelah penghulu menikahkan. Ramadhan telah berakhir gerbang hari  fitri telah terbuka. Gemuruh jantung kian kencang akhirnya hari itu tiba, hari dimana saia akan bertemu orangtua mu. Rasa dada ini begitu sesak dan ketegangan itu merambat juga padamu. Penampilan sudah maksimal bahkan ubah penampilan demi menyesuaikan situasi. 

Tak selamanya usaha berbanding lurus dengan hasil.  Hal yang di khawatirkan terjadi Hubungan berakhir karana restu tak kunjung didapat. Kita kecewa dengan keadaan saia begitu terluka saat mendengar pesta pernikahanmu.  Mungkin saat ini kamu disana telah bahagiaa dengan pilihan orangtuamu.

Kisah kita masih saja berbekas dan selalu berputar di otak. Setiap tempat yang pernah kita datangi saya melihat ada bayangan kita tertawa bersama. Saya pasti tertegun dan seolah melihat sebuah tayangan film dan kita menjadi artisnya. Pilihan terbaik bagi saia adalah menyebrangi propinsi lain
Setiap mengingatmu airmata ini tanpa kompromi tumpah dan rasa sakit merambat di hati
Aaahhh seandai nyaa kita.....
 
tiiintiiiiin... sebuah kendaraan melaju kearahku daannn saya merasa ada yang menarik tangan dan memegang erat
mau matiii kau yaaaa??!!?? pengendara mobil itu memaki saya tanpa ampun.
Seseorang yang berwajah teduh memegang tangan dan bruuuk tanpa sempat bertanya semua menjadi gelaap

No comments :

Post a Comment