Saturday, 28 June 2014

Peran Masyarakat Dalam Pengendalian TB

Tidak terasa serial Lomba Blog #SembuhkanTB hampir berakhir, harapan kita semua lomba blog ini bisa mengedukasi masyrakat terutama pembaca blog.
Saat ini adanya  fenomena Pasien Website, maksudnya jika menemukan gejala penyakit mereka akan mencari tahu di website kemudian akan mengunjungi tenaga kesehatan terutama dokter setelah paham penyakit mereka. Disini kita melihat adanya rasa ingin tahu mereka yang tinggi hendaknya begitu juga dengan penyakit tuberkolosis (TB). 

TB merupakan penyakit menular yang meresahkan dunia yang dapat  menimbulkan  kematian , angka kematian akibat TB di dunia mencapai 1,3 juta jiwa per tahun, 410.000 pada wanita dan 74.000 pada anak-anak. Sebanyak 1,1 juta Orang dengan HIV menderita TB atau 13%, dengan kematian sekitar 320.000 jiwa. Untuk kasus TB resistan obat dari 450.000 kasus, 170.000 meninggal . Indonesia juga tidak ketinggalan menderita karena TB setiap tahunnya  terdapat 67.000 kasus meninggal karena TB atau sekitar 186 orang per hari. Data WHO dalam Global Report 2009, pada tahun 2008 Indonesia berada pada peringkat kelima dunia penderita TB terbanyak setelah India, China, Afrika Selatan dan Nigeria.TB masih menjadi masalah kesehatan di tingkat dunia, dan belum ada negara yang 100 persen bebas dari penyakit ini. 

TB adalah pembunuh nomor satu untuk kategori   penyakit menular dan merupakan peringkat 3 dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia (SKRT 2004). Artinya TB akan menjadi masalah baru  jika tidak sembuh total,  memberikan dampak pada ekonomi yang semakin berat karena penderita TB tidak bisa produktif malahan menjadi beban bagi anggota keluarga yang lain, sekitar 75 persen penderita TB harus mengambil pinjaman atau berhutang untuk biaya pengobatan dan biaya sehari-hari. 

Jika kepala keluarga yang terkena tidak bisa menafkahi keluarganya sehingga pendapatan berkurang dan jika anak-anak yang terkena akan kehilangan waktu untuk belajar produktif. Kemiskinan seolah menjadi teman yang abadi bagi penderita TB, orang yang miskin kekurangan gizi dengan daya tahan tubuh rendah akan lebih rentan tertular dan menjadi sakit.

Penyebaran penyakit akibat mycobacterium tuberkolosis  banyak di wilayah indonesia bagian timur, pada wilayah tersebut masih banyak ditemukan kasus TB bahkan lebih separuh penderita TB ada di wilayah itu. Wilayah  Indonesia yang luas ini  sebenarnya banyak juga yang terkena TB tapi sayangnya tidak seterkenal di wilayah Indonesia bagian timur. Keanekaragaman wilayah Indonesia daerah terdiri dari desa dan kota ternyata ada juga perbedaan angka kematian  TB yaitu  nomor 4 di perkotaan setelah stroke, Diabetes dan hipertensi dan nomor 2 dipedesaan setelah stroke (Riskesdas 2007).  TB tidak bisa disepelekan, harus diketahui 3 faktor yang menyebabkan tingginya kasus TB di Indonesia. yaitu 
  • Waktu pengobatan TB yang relatif lama (6- 8 bulan) menjadi penyebab penderita TB sulit sembuh karena   merasa sehat maka akan berhenti berobat (drop) walaupun proses pengobatan belum selesai. 
  • Peningkatan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan TB-MDR (Multi Drugs Resistant) yaitu penderita yang kebal terhadap bermacam obat.
  • Adanya penderita TB laten, dimana penderita tidak sakit namun akibat daya tahan tubuh menurun, penyakit TB akan muncul. 
Strategi untuk mengendalikan TB adalah dengan cara DOTS terdiri dari 5 komponen yaitu komitmen pemerintah untuk mempertahankan control terhadap TB; deteksi kasus TB di antara orang-orang yang memiliki gejala-gejala melalui pemeriksaan dahak; pengobatan teratur selama 6-8 bulan yang diawasi; persediaan obat TB yang rutin dan tidak terputus; dan sistem laporan untuk monitoring dan evaluasi perkembangan pengobatan dan program. Usaha ini tidak akan berhasil jika tidak ada kerjasama yang solid dengan masyarakat sekitarnya. 

Masyrakat harus dijadikan perpanjangan tangan oleh pusat pelayanan kesehatan, luasnya daerah kerja dengan kondisi geografi yang tidak sama ditambah jumlah tenaga kesehatan yang tidak memadai menjadi suatu penghambat keberhasilan pengendalian TB. Untuk itu kita perlu berupaya  melibatkan masyarakat dengan memberikan peran masing-masing sesuai dengan kemampuan yang dimilik masyarakat tersebut, diharapkan dapat menumbuhkan dan meningkatkan tanggung jawab terhadap kesehatan bersama terhadap populasi yang beresiko seperti
  • usia produktif 
  • masyarakat dengan sosial ekonomi yang kurang menguntungkan seperti lingkungan yang kumuh, padat dan terbatasnya akses untuk perilaku hidup bersih dan sehat
  • Orang dengan HIV AIDS.
  •  Wanita hamil dan anak anak juga sangat rentan terkena TB.

Peran  masyarakat itu wajb 

Masyarakat merupakan sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi  antara individu-individu yang berada dalam kelompok  . Dari defenisi masyarakat bisa kita lihat adanya hubungan yang erat antara suatu tempat masalah kesehatan dengan upaya pengendalian masalah tersebut. Jika masyarakat dilibatkan dalam pengendalian TB maka masyrakat akan merasa jadi bagian sehingga mereka peduli dan berusaha untuk mencari solusi , kalaupun tidak bisa sejauh itu setidaknya mereka akan jadi mitra tenaga kesehatan, saat ditemukan gejala penyakit mereka akan langsung melaporkan ke tenaga kesehatan.  

Selama ini  sebanyak 1/3 kasus TB masih belum terakses atau dilaporkan. Bahkan banyak ditemukan keterlambatan dalam pengobatan TB , saat diobati sudah dalam tahap lanjut bahkan kuman telah resistan obat sehingga sulit untuk diobati. Ini dikarenakan tenaga kesehatan sibuk menyembuhkan saja penderita  TB tapi masyarakat tidak disertakan. Ketika penderita  TB aktif berhasil sembuh muncul penderita TB laten , sebenarnya bisa dicegah menjadi TB aktif jika mereka mengetahui tentang TB .  Tidak adanya kerjasama tidak akan menuntaskan masalah. Kita tidak bisa berdiam diri dalam menghadapi TB karena terlambat dalam melakukan pengobatan TB akan menyebabkan lebih banyak yang terpapar. Adapun masyarakat yang bisa berperan dalam pengendalian TB
  • Tokoh masyarakat (tokoh adat, tokoh agama )
  • Kelompok masyarakat dengan kebutuhan khusus kesehatan (generasi muda, wanita, angkatan kerja dan lain-lain)
  • Organisasi masyarakat yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menyelenggarakan upaya kesehatan
  • Masyarakat umum
Cara membuat masyarakat berperan dalam pengendalian TB adalah menyiapkan masyarakat dengan menerapkan Komunikasi Informasi dan Motivasi (KIM). Maksudnya selalu berkomunikasi 2 arah dengan masyarakat dengan menyebarkan informasi Tentang TB dan selalu memotivasi masyarakat untuk ikut serta berperan dalam pengendalian TB. Motivasi adalah penggerak batin yang mendorong seseorang dari dalam untuk menggunakan tenaga yang ada pada dirinya sebaik mungkin demi tercapainya tujuan. Artinya motivasi itu akan timbul dari kesadaran masyrakat tentang bahaya TB. Dalam melibatkan masyarakat kita harus mengetahui karakteristik suatu daerah seperti keadaan politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan agama.

Bentuk peran masyarakat yang bisa dilakukan adalah
  1.  Menjadi PMO (pengawas minum obat) PMO berperan penting karena bertugas mengingatkan penderita TBuntuk  tidak lupa minum obat secara teratur  . 
  1. menjadi perpanjangan tenaga kesehatan seperti menjadi kader, Kesuksesan suatu kegiatan tidak bisa dilepaskan dari Kader. Kader lah yang akan bergerak dari satu rumah kerumah lain mendata penderita TB kemudian menganjurkan berobat. 
  1.  menjadi informan, antara kader dan informan tugasnya hampir sama yaitu membantu menemukan penderita TB dan meyuruhnya berobat mendatangi tempat pelayanan kesehatan . Adapun yang membedakannya adalah kader telah ditunjuk secara khusus, dan biasanay jumlah kader telah ditentukan. Informan artinya masyarakat yang menyebarkan informasi secara luas baik dari mulut kemulut atau  melalui media seperti blogger yang dapat menambah pengetahuan masyrakat. Pemberian informasi yang sederhana sekalipun bisa mengendalikan TB seperti batuk berdahak lebih dari 2 minggu bahkan hingga mengeluarkan darah, berat badan yang menurun drastis, demam, serta sakit  pada bagian dada)segeralah memerikasakan diri puskesmas atau rumah sakit. 
  1. bergabung diorganisasi yang bergerak dalam pengendalian TB seperti Forum stop TB, PPTI
Dalam melakukan pengendalian TB juga bisa melibatkan Kelompok masyarakat dengan kebutuhan khusus kesehatan seperti generasi muda, wanita, angkatan kerja . Di lingkungan sekolah sebenarnya juga bisa dilakukan peran serta yaitu dengan mengedukasi anak sekolah tentang TB, sehingga mereka bisa menyambung informasi TB pada keluarga dan lingkungan sekitar. Masyarakat yang berperan dalam pengendalian TB  hendaknya dari berbagai disiplin ilmu serta yang bisa memberi pengaruh(suaranya didengar) seperti tokoh adat, tokoh agama. 

Keberadaan banyak organisasi kemasyarakan harus juga diberdayakan dalam pengendalian TB seperti organisasi profesi, pengobatan tradisional, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan sebagainya. Sehingga mempermudah menemukan sepertiga kasus TB yang ‘hilang’ dan tidak terlaporkan serta untuk menjangkau kasus TB pada kelompok rentan.

tulisan ini diikutkan dalam lomba blog TB serial ke 7
sumber :





No comments :

Post a Comment