My Most Unforgetabble : Bumi Raflesia

April 11, 2014

Perjalanan yang terlupakan????
Artinya berkesan???
Setelah mengubek-ubek isi otak saia, akhirnya muncullah  sebuah perjalanan yang berkesan dan saia bisa mendapatkan pelajaran yaitu sebuah kesabaran.
Menjadi sabar itu ternyata tak semudah mengucapkannya.
Perjalanan ini begitu berkesan sehingga sulit melupakannya.

Baiklahh ini cerita saia....
Pada tahun 2005 setelah lulus dari SMA saia ingin menggapai impian menjadi paramedis, adapun untuk profesinya bisa bidan, perawat dan dokter.
Magnet dari Baju putih itu begitu mempengaruhi, setiap ada yang memakai baju warna putih seolah saia melihat ada pancaran keindahan dan kemuliaan. Saia juga ingin merasakannnya dengan menjadi bagian dari paramedis tersebut, ikut mengabdikan diri untuk menolong masyarakat yang kurang mampu. Menurut orang saia idealis bahkan ada yang menganggap munafik. Hidup memang perlu uang tapi tidak semua bisa di ukur dengan uang. Ada dorongan hati nurani untuk membantu sesama dengan ilmu yang dimiliki.

Dengan berbekal tekad , mulailah  mencari sekolah yang bisa mewujudkan cita-cita dengan bertanya kepada senior. Pilihan jatuh ke jurusan kedokteran melalui jalur spmb dan hasilnya tidak lulus , tapi selalu ada keyakinan yang besar cita-cita saia jadi paramedis pasti terwujud. Tak ada kata putus asa dalam kamus hidup selalu menananamkan keyakinan pasti tercapai.
Kemudian Saya ganti ke jalur kebidanan,  masih sama dengan cita- cita awal  menjadi paramedis. Ternyata saya baru tahu bidan juga profesi mulia, menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan. Didaerah terisolir tugas  dilakukan bidan  begitu komplit dimulai dari melahirkan, mengobati penyakit sampai jadi tenaga labor, sungguh profesi mulia dan diharapkan bisa menjadi katalisator berkurangnya AKI dan AKB.  Adapun alasan utama saya memilih bidan dikarenakan ingin membantu WUS (wanita usia subur ) untuk melahirkan dengan selamat serta tidak ada lagi ibu yang bayi nya ditahan kerena tidak mampu bayar. Selalu saia berharap bisa menolong mereka.

Akhirnya dipilih poltekkes kebidanan di bengkulu. Kenapa bengkulu?? Karena orang tua tidak mampu menyekolahkan ke swasta dan saya memiliki banyak adik , sungguh terlalu jika  hanya memikirkan kepentingan pribadi tanpa mengingat adik. Sebenarnya di daerah saya ada juga poltekkes tapi karena bidan menjadi profesi primadona maka berlomba lah mendaftar. Ketika mendaftar, saya sudah no urut ke 300, sedangkan yang akan di terima hanya 80 orang.  Peluang yang kecil karena prestasi akademik biasa saja, saya percaya jika tuhan berkehendak pasti bisa lulus. Tapi saya harus menentukan pilihan memilih Bukittinggi atau Bengkulu karena ujian masuknya poltekkes jadwalnya sama seluruh indonesia. Ternyata Alasan mereka masuk kebidanan bermacam-macam. Setiap orang itu berbeda, menurut saya alasan itulah yang akan jadi motivasi untuk sukses.

Bengkulu....
Ketika mendengarnya yang teringat adalah Tsunami dan bunga raflesia , itu saja yang ada di otak saya. Tak pernah terbayang seperti apakah daerah dan kearifan lokalnya.

sumber

Dengan tekad yang kuat maka berangkatlah kami saya dan ibu ke bengkulu. Menuju ke bengkulu harus menyambung  bis sangat melelahkan. untuk bisa sampai harus menuju bukittinggi sedangkan untuk ke bukittinggi harus menaiki bis menegah yang sering berhenti disetiap persimpangan. sebelum sampai bukittinggi rasa cemas menyelusup, apakah akan ditinggalkan dan kami beberapa kali menelpon agen Bis untuk memberitahu posisi kami.
Akhirnya kami sampai di bukittinggi dan nyaris ditinggalkan...Bis yang kami naiki ini berangkat hanya 1 kali sehari saja, kalau terlambat sedikit tinggallah karena mereka punya target waktu yang harus sampai. Kami mendapatkan  no bangku 37-38, penumpang bis hanya beberapa orang saja. Diperjalanan orang silih berganti naik dan bus penuh ke bengkulu.

Perjalanan ini sangat melelahkan kira-kira 14 jam dan hanya berhenti untuk makan saja. Matahari sudah mulai beranjak ke peraduan malam telah menyapa bis makin susah  melaju sebentar lagi kami akan melewati persawangan, suasana dibis makin terasa pengap kaca telah ditutup penumpang telah over bahkan ada yang duduk di serap diatas beras , bau keringat dan asap rokok bercampur membuat mual perut. Karung beras memenuhi lantai bis membuat susah melangkah tapi sangat menguntungkan bagi penumpang yang naik di jalan bisa dibayangkan betapa lelahnya mereka duduk diberas tanpa bisa bersandar .

Jujur kalau bukan karena ingin menggapai cita-cita tidak rasanya berada disituasi yang menyakitkan paru-paru ini, saat asap rokok terperangkap dibis sedangkan jendela harus ditutup. Alasan mereka untuk keamanan jika ada yang melempar ketika jendela tidak ditutup maka akan membahayakan penumpang. 

Pagi telah menyapa dan 1 jam lagi kami sampai di bengkulu, dan kenekatan kami yang kedua adalah tidak ada saudara yang dituju. Kami hanya mendapat kenalan tempat yang akan dituju saat sampai dibengkulu nanti dari  tetangga, artinya kami tidak kenal dengan yang ada dibengkulu ini. 
Dengan langkah perlahan kami menuju rumah orang itu, entah bagaimana tanggapan mereka ketika kami sampai didepan rumahnya. Harusnya kami mencari penginapan saja tapi kami tidak tahu dimana ada penginapan karena kami sampainya subuh.
Pelajaran lain lagi yang bisa saia ambil adalah jangan pernah berprasangka pada orang lain. Ternyata tanggapan mereka bagus dan menganngap kami keluarga, sungguh saia baru tahu rasa persaudaran dirantau begitu dekat, walaupun berbeda kampung tapi bisa menyatu. 

Demikianlah perjalanan yang berkesan menurut saya,  begitu banyak pelajaran yang bisa diambil.

bis penuh kenangan , sumber disini
Tulisan diikutkan dalam ga my unforgettable journey

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Daisypath Anniversary tickers