Saturday, 15 March 2014

Antara Kabut dan Sholat Istisqo

Kabut yang menutupi wajah payakumbuh kian pekat, sudah hampir 2 minggu kami hidup bersama kabut.
Ketika matahari menampakkan wajah, kabut masih saja bercokol.siangnya masih kabut dan malampun tak ada perubahan.
Dengan segala keterpaksaan kami harus bermasker, bukan untuk mencantik wajaah yaa...
Mengecilkan pori-pori...
Itu beda lagi maskernyaa nenggg
Maasker untuk menutupi hidung dan mulut melindungi pernafasan,
Hanya itu yang bisa dilakukan.
Kota payakumbuh dan kab 50 kota tercinta belum seberapa dashyatnya mendapat kabut.
Kami hanya menerima sedikit saja, tapi sudah kewalahan untuk survive.
Hidung,mata terasa perih dan nafaspun kian sesak.
Ntah bagaimana nasib saudara- saudara di riau sana, kadar oksigen di udara riau tinggal 1% saja.
Normalnya udara mempunyai 21% oksigen.
Entah bagaimana keadaan bumil, lansia dan anak-anak.
Bisa di bayangkan berbagai gangguan kesehatan mengintai dan menurut para ahli menjadi faktor pencetus kanker paru.
Sebuah ide muncul untuk mengungsi sementara waktu.
Kemana...kemana...
Dimana ku harus tinggal???
Kalau pindah perekonomian akan berhenti.
Sebuah solusi yang membingungkan
Tampaknya penderitaan belum berakhir, selain kabut yang tebal hujan telah lama meninggalkan kami.
Ya..ya..
Tanah belum retak, sumur masih ada sedikit air tapi bagaimana cara mengusir kabut???
Akhirnya,
Pekanbaru,.bukitinggi mengadakan sholat istiaqo ( sholat meminta hujan)
Semua hewan ternak di sarankan dibawa juga untuk berdoa meminta hujan
Diharapkan doa hewan ini bisa dikabulkan, apakah terlalu besar dosa manusia sehingga butuh bantuan mereka???

No comments :

Post a Comment