Saturday, 28 December 2013

Kapalo Banda, Serasa Jadi Anak Perairan

Kepalo banda merupakan salah satu objek wisata di sebuah nagari dipropinsi Sumatera Barat. Adapun lokasi lengkapnya di kecamatan harau nagari taram, kami biasanya menyebut nagari untuk desa. Adapun untuk mencapai ke sini kita bisa menngunakan perjalanan darat dengan kendaraan bermotor. Yang membuat taram terkenal itu disini juga ada sebuah bukit kami menyebutnya bukik bulek (bukit bulat) 



Sebenarnya kapolo banda merupakan sebuah salauran irigasi tradisional tapi dengan ada pembangunan membuat wajah kepalo banda berubah dan mampu membuat wisatawan terpesona dengan pemandangan yang hijau dan air  yang segar. Kepalo banda begitu menarik itu adalah kegiatan berakit yang bisa kita bayar sekita 10.000 rupiah, selain itu bagi yang hobi memancing juga bisa menyalurkan hobi.

Suatu hari saya di telpon teman untuk datang ke kapalo banda, dari tadi maksudnya sebelum  berangkat dia udah resek banget. Menelpon terus menerus menanyakan dimana kamu, udah berangkat ? terasa beda nyenyes banget lah. Karena penasaran saya pergi  berkonfoi dengan teman menggunakan 3 motor. (Sayangnya lupa memfoto konfoi kami .)
Menuju  kesana terasa jauh karena jalanan belum begitu bagus dan debu menggempul di udara. Sungguh sakit pinggang menari-menari membuat saya ingin cepat sampai . Adapun yang menghibur saya adalah alammya masih perawan deretan pepohonan yang rimbun. Pengelolaan Objek wisata ini masih alakadarnya belum ada fasilitas penunjang seperti kamar mandi, kamar ganti, parkir. Mungkin karena belum ada pengelola resminya untuk mengurus fasilitasnya. Disini palingan kita hanya diminta untuk biaya parkir oleh tukang parkir  tidak ada retribusinya. 

Disini tidak begitu ramai karena objek wisata ini pernah ditutup beberapa waktu yang lalu dan baru dibuka. Serasa privat saia disini tidak perlu antri untuk berakit dan berfoto
Sesampai di sini tiba-tiba saja mereka sudah meminta hp saya, mengambil tas dan tiba-tiba mendorong saia ke air. Oh tidaaaaak,  saya tidak bisa berenang. Rasanya marah besar kemarahan udah nyampai ubun-ubun tanpa ada hujan angin mereka mendorong ke air, tambah lagi saya salah kostum saking terburu-burunya dan saia tidak membawa baju ganti Dengan santainya mereka mengucapkan happi birthday , ooh wajar saya tak curiga karena  ulang tahun besok. Dengan santainya mereka mengucapkan ingin merayakan ulah saia lebih awal 





 Setelah basah mereka mengajak  naik rakit mengelilingi kapalo banda dengan rakit hal yang paling saya suka. Kami berlomba menuju finish siapa yang tercepat. Ternyata tidak hanya ada kami disini , kami bertemu juga dengan serombongan bapak-bapak yang berasal dari Jakarta yang juga berakit. Jadinya kami berlomba dengan bapak-bapak  itu dan hasilnya kami kalah. Karena bapak-bapak itu sudah biasa berakit dan saia merasa seperti anak sungai yang harus bertugas didaerah sulit dijangkau. 

serasa jadi anak perairaan




Inilah perjalanan yang tak terlupakan karena kesukaan berakit dan perlombaan yang memacu adrenalin





Dan besoknya teman-teman merayakan ulang tahun saia secara simbolis, dengan tiup lilinnya 



2 comments :

  1. tampak sekali kalau sungai nya tu masih asri ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya masih asri mas, disepanjang perjalanan disuguhi pohon-pohon.

      Delete